MORFOFONEMIK DALAM BAHASA INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia mempunyai tanggung jawab keilmuan kepada peserta didik dalam memberikan kaidah berbahasa yang baik dan benar. Materi pembelajaran yang disajikan hendaknya mencerminkan kazanah bahasa Indonesia yang selaras dan sejalan dengan perkembangan peradaban rakyat Indonesia. Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia sebaiknya juga melakukan pengkajian terhadap berbagai persoalan terhadap perkembangan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Salah satu bidang pengkajian bahasa Indonesia yang cukup menarik adalah bidang tata bentukan atau morfologi. Bidang ini menarik untuk dikaji karena perkembangan kata-kata baru yang muncul dalam pemakaian bahasa sering berbenturan dengan kaidah-kaidah yang ada pada bidang tata bentukan ini. Oleh karena itu perlu dikaji ruang lingkup tata bentukan ini agar ketidaksesuaian antara kata-kata yang digunakan oleh para pemakai bahasa dengan kaidah tersebut tidak menimbulkan kesalahan sampai pada tataran makna. Jika terjadi kesalahan sampai pada tataran makna, hal itu akan mengganggu komunikasi yang berlangsung. Bila terjadi gangguan pada kegiatan komunikasi maka gugurlah fungsi utama bahasa yaitu sebagai alat komunikasi. Hal ini tidak boleh terjadi.
Salah satu gejala dalam bidang tata bentukan kata dalam bahasa Indonesia yang memiliki peluang permasalahan dan menarik untuk dikaji adalah proses morfofonemik atau morfofonemis. Permasalahan dalam morfonemik cukup variatif, pertemuan antara morfem dasar dengan berbagai afiks sering menimbulkan variasi-variasi yang kadang membingungkan para pemakai bahasa. Sering timbul pertanyaan dari pemakai bahasa, manakah bentukan kata yang sesuai dengan kaidah morfologi. Dan, yang menarik adalah munculnya pendapat yang berbeda dari ahli bahasa yang satu dengan ahli bahasa yang lain. Fenomena itulah yang menarik bagi kami untuk melakukan pengkajian dan memaparkan masalah morfofonemik ini dalam makalah ini.

B. Fokus Permasalahan

1. Bagaimanakah peristiwa morfofonemik dalam bahasa Indonesia?
2. Apa saja jenis morfofonemik dalam bahasa Indonesia?
3. Bagaimanakah kaidah morfofonemik dalam bahasa Indonesia?

C. Kajian Teori

Pengertian Morfofonemik
1. Proses morfofonemik adalah proses berubahnya suatu fonem menjadi fonem lain sesuai dengan fonem awal kata yang bersangkutan (Zainal Arifin, 2007:8).
2. Morfofonemik, disebut juga morfonemik, morfofonologi, atau morfonologi atau peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi (Abdul Chaer, 2007:194).
3. Morfofonemik adalah subsistem yang menghubungkan morfologi dan fonologi. Di dalamnya dipelajari bagaimana morfem direalisasikan dalam tingkat fonologi. (Kridalaksana, 2007:183)

BAB II PEMBAHASAN
A. Peristiwa Morfofonemik dalam Bahasa Indonesia
Proses morfofonemik adalah peristiwa fonologis yang terjadi karena pertemuan morfem dengan morfem. Proses morfonemik dalam bahasa Indonesia hanya terjadi dalam pertemuan realisasi morfem dasar (morfem) dengan realisasi afiks (morfem), baik prefiks, sufiks, infiks, maupun konfiks (Kridalaksana, 2007:183).
Peristiwa morfonemik dalam bahasa Indonesia dapat kita lihat misalnya pada prefiks me- . Dalam proses afiksasi, prefiks me- tersebut akan berubah menjadi mem-, meny-, meng-, menge-, atau tetap me-, menurut aturan-aturan fonologis tertentu. Istilah “morfofonemis” menunjukkan kaidah yang menyesuaikan bentuk-bentuk alomorf-alomorf yang bersangkutan secara fonemis.

B. Jenis Morfofonemik dalam Bahasa Indonesia
Kridalaksana memerikan perubahan-perubahan fonem yang terjadi akibat pertemuan morfem itu dapat digolongkan dalam sepuluh proses, yaitu:
1. pemunculan fonem
2. pengekalan fonem
3. pemunculan dan pengekalan fonem
4. pergeseran fonem
5. perubahan dan pergeseran fonem
6. pelesapan fonem
7. peluluhan fonem
8. penyisipan fonem secara historis
9. pemunculan fonem berdasarkan pola bahasa asing
10. variasi fonem bahasa sumber
Sedangkan Abdul Chaer membagi perubahan fonem dalam proses morfofonemik ini dalam lima wujud, yaitu:
1. pemunculan fonem
2. pelesapan fonem
3. peluluhan fonem
4. perubahan fonem
5. pergeseran fonem
Berbeda dengan kedua ahli bahasa sebelumnya, Zaenal Arifin dan Junaiyah memaparkan peristiwa morfofonemik dari afiks-afiks dan kata bentukan pada afiksasi tersebut. Sehingga munculah morfofonemik pada prefiks meng-, per-, ber-, dan ter- beserta morfofonemik yang terjadi akibat pertemuan afiks-afiks tersebut dengan fonem tertentu pada dasarnya.

C. Kaidah Morfofonemik dalam Bahasa Indonesia

1. Menurut Harimurti Kridalaksana :

a. pemunculan fonem
Proses morfofonemik yang paling banyak terjadi ialah pemunculan fonem. Fonem yang muncul itu sama tipenya (homorgan) dengan fonem awal dalam morfem dasar. Perubahan morfofonemik semacam itu menimbulkan alomorf-alomorf dari morfem yang bersangkutan.
Contoh :
1) pemunculan bunyi luncur /y/ pada kata : ketinggiyan, tepi yan, penanti yan
2) pemunculan bunyi luncur /w/ pada kata : kepulau wan, serbu wan, pertoko wan
3) pemunculan /a/ pada penggabungan morfem dasar ayah dan prefiks anda :/ ayahanda/
4) pemunculan /n/ pada pertemuan morfem dasar diri dengan prefiks se-: /sendiri/
5) pemunculan /m/ pada pertemuan morfem dasar barang dengan prefiks se- : /sembarang/
6) pemunculan /m/ pada penggabungan morfem dasar yang diawali dengan /b/, /f/, dan /p/ yang bergabung dengan prefiks me-, pe-, dan pe-an : membeli, memperbarui, memfitnah, pemberian
7) pemunculan /n/ yang terjadi bila morfem dasar diawali oleh konsonan /t/ dan /d/ bergabung dengan /me-/, /pe-/, maupun /pe-an/, contoh : pendengar, mendapat, pendalaman.
8) pemunculan /n/ pada penggabungan morfem dasar yang diawali dengan /c/, dan /j/ yang bergabung dengan prefiks me-, pe-, dan pe-an : mencari, pencuri, pencarian
9) pemunculan /ng/ pada penggabungan morfem dasar yang diawali dengan /g/, /x/, dan /h/ yang bergabung dengan prefiks me-, pe-, dan pe-an : mengkoordinir, penggugat, pengkhususan, penghapus
b. pengekalan fonem

Proses pengekalan fonem terjadi bila proses penggabungan morfem tidak terjadi apa-apa, baik pada morfem dasar maupun afiks. Morfem dasar dan morfem terikat itu dikekalkan dalam bentuk baru yang lebih konkret.
1) pengekalan fonem terjadi pada morfem dasar /y/, /r/, /l/, /w/, atau nasal bergabung dengan /me-/, /pe-/, contoh : meyakinkan, peramal, pelempar, pewarna
2) pengekalan fonem terjadi bila morfem dasar yang berakhir dengan /a/ bergabung dengan konsonan ke-an, contoh : kerajaan, keadaan, kelamaan.
3) Pengekalan fonem terjadi bila afiks ber-, per-, atau ter- bergabung dengan kecuali ajar, anjur, atau yang diwakili konsonan /r/ atau suku kata pertamanya berakhir mengandung /r/ contohnya : bermain, tersalip, pertanda
4) Pengekalan fonem terjadi bila afiks se- bergabung dengan morfem dasar, contohnya : searah, seumur, sebutir
5) Pengekalan fonem terjadi bila afiks –man, -wan, dan –wati bergabung dengan morfem dasar, contohnya : seniman, peragawati, wartawan

c. pemunculan dan pengekalan fonem

Pemunculan dan pengekalan fonem ialah proses pemunculan fonem yang homorgan dengan fonem pertama morf dasar dan sekaligus pengekalan fonem pertama morf dasar tersebut.
1) pemunculan /ng/ dan pengekalan /k/ contohnya : mengkukur, pengkaji
2) pemunculan /ng/ dan pengekalan /’/ contohnya : mengarang, pengukur

d. pergeseran fonem

Pergeseran posisi fonem terjadi bila komponen dari morfem dasar dan bagian dari afiks membentuk satu suku kata. Pergeseran ini dapat terjadi ke depan, ke belakang, atau dengan pemecahan.
 per-ba-i-ki1) pergeseran ke belakang : /baik/ + /per-i/
 ke-ba-ka-ran/bakar/ + /ke-an/
2) peregeseran ke depan : /ibu/ + /-nda/  i-bun-da
 ge-lem-bung3) pemecahan suku kata : /gembung/ + /-l-/
/gigi/ + /-r-/  gerigi

e. perubahan dan pergeseran fonem

Perubahan dan pergesaran posisi fonem terjadi pada proses penggabungan morfem dasar yang berakhir dengan konsonan dengan afiks yang berawal dengan vokal.
1) perubahan dari fonem /’/ menjadi fonem /k/
Contohnya : /me-i/ + /nai’/  me-na-i-ki,
/ke-an/ + /dudu’/  ke-du-du-kan
2) perubahan dari fonem /r/ menjadi fonem /l/ pada afiks ber-, per-, dan per-an
Contohnya : /ber-/ + /’ajar/  be-la-jar
/per-/ + /’ajar/  pe-la-jar
/per-an/ + /’ajar/  pe-la-ja-ran

f. pelesapan fonem

Proses pelesapan fonem terjadi bila morfem dasar atau afiks melesap pada saat terjadi penggabungan morfem.
1) pelesapan fonem /k/ atau /h/ terjadi bila morfem dasar yang berakhir pada konsonan tersebut bergabung dengan sufiks yang berasal dari konsonan juga.
Contoh : /’anak/ + /-nda/  ananda
/sejarah/ + /wan/  sejarawan

g. peluluhan fonem

Proses peluluhan fonem terjadi bila proses penggabungan morfem dasar dengan afiks membentuk fonem baru.
1) peluluhan fonem awal /k/ bila morfem dasar tersebut bergabung digabung dengan afiks /me-/, /me-kan/, /me-i/, /pe-/, dan /pe-an/.
Contoh : /me-/ + /karang/  mengarang
 mengirimkan/me-kan/ + /kirim/
 mengurangi/me-i/ + /kurang/
 pengarang/pe-/ + /karang/
 pengurangan/pe-an/ + kurang/
2) peluluhan fonem awal /p/ bila morfem dasar tersebut bergabung dengan afiks /me-/, /me-kan/, /me-i/, /pe-/, dan /pe-an/
 memilihContohnya : /me-/ + /pilih/
 memikirkan/me-kan/ + /piker/
 memerangi/me-i/ + /perang/
 pemahat/pe-/ + /pahat/
 pemutihan/pe-an/ + /putih/
3) peluluhan fonem /s/ terjadi pada penggabungan dengan afiks /me-/, /me-kan/, /me-i/, /pe-/, dan /pe-an/
Contohnya : /me-/ + /sayur/  menyayur
 menyaksikan/me-kan/ + /saksi/
 menyakiti/me-i/ + /sakit/
 penyusun/pe-/ + /susun/
 penyaluran/pe-an/ + /salur/ 

h. penyisipan fonem secara historis

Penyisipan terjadi bila morfem dasar yang berasal dari bahasa asing diberi afiks yang berasal dari bahasa asing.
Contoh : /standar/ + /-isasi/  satndardisasi
/objek/ + /if/  objektif
/impir/ + /ir/  importir

i. pemunculan fonem berdasarkan pola bahasa asing

Pemunculan fonem akibat dari mengikuti pola morfofonemik bahasa asing.

j. variasi fonem bahasa sumber

Variasi fonem ini mengikuti pola bahasa sumber dan memiliki makna sama dengan bahasa sumber.

2. Menurut Abdul Chaer
Bahasan Abdul Chaer mengenai kaidah morfofonemik dalam bahasa Indonesia pada dasarnya sama dengan pembahasan yang diberikan oleh Kridalaksana. Namun Abdul Chaer hanya memerikan proses morfofonemik ke dalam lima peristiwa, yaitu (1) pemunculan fonem; (2) pelesapan fonem; (3) peluluhan fonem; (4) perubahan fonem; (5) pergeseran fonem.
Lebih jauh Abdul Chaer menegaskan bahwa seperti tampak pada namanya, yang merupakan gabungan dari dua bidang studi yaitu morfologi dan fonologi, atau morfologi dan fonemik, bidang kajian morfonologi atau morfofonemik ini meskipun biasanya dibahas dalam tataran morfologi tetapi sebenarnya lebih banyak menyangkut masalah fonologi. Kajian ini tidak dibicarakan dalam tataran fonologi karena masalahnya baru muncul dalam kajian morfologi, terutama dalam proses afiksasi, reduplikasi, dan komposisi. Masalah morfofonemik ini terdapat hampir di semua bahasa yang mengenal proses-proses morfologis.

3. Menurut Verhaar
Verhaar dalam Asas-Asas Linguistik Umum tidak banyak mengulas morfofonemik ini. Dia hanya menyampaikab bahwa istilah morfofonemis sudah menunjukkan bahwa kaidah tersebut menyesuaikan bentuk alomorf-alomorf yang bersangkutan secara fonemis. Contoh tentang men- dalam morfologi Indonesia, sebelum /m/ dan /b/ menjadi mem- sehingga homorgan dengan fonem pertama bentuk dasar; atau sebelum vokal menjadi /meng-/ sebelum /s/ menjadi /meny-/ dan seterusnya demikian.
Lebih lanjut Verhaar menyampaikan bahwa alomorf-alomorf imbuhan men- dalam bahasa Indonesia yang menjadi mem- sebelum /m/ dan /b/, hal itu boleh dipandang sebagai hal fonemis semata-mata, karena kehomorganan, yaitu homorgan artikulasinya. Pendek kata kaidah morfofonemis adalah fonemis hanya sejauh kaidah tersebut dapat dirumuskan dengan mengacu pada fonem-fonem saja.

4. Menurut Zaenal Arifin dan Junaiyah
Kedua ahli bahasa ini mengelompokkan proses morfofonemik pada afiks-afiks yang mengalaminya.
a. Morfofonemik Prefiks meng-
Ada tujuh peristiwa morfofonemik pada prefiks meng-, yaitu :
1) Jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /a/, /i/, /u/, /e/, /o/, /k/, /h/, /x/ bentuk meng- tetap meng-/men-/.
Misalnya : mengawali, mengikuti, mengubah, mengekor, mengarang, menghitung
2) Jika prefiks meng- ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /l/, /m/, /n/, /r/, /y/, atau /w/, bentuk tersebut akan menjadi me-
Misalnya : melalui, meronta, meyakini, mewariskan
3) Jika prefiks meng- ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /d/, atau /t/, prefiks tersebut berubah menjadi men-
Misalnya : mendengar, menulis
4) Jika prefiks meng- ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /b/, /p/, atau /f/, prefiks tersebut berubah menjadi mem-
Misalnya : membawa, memarkir, memfitnah
Fonem /f/ berasal dari bahasa asing maka tidak diluluhkan. Pada kata patuhi dan pakai, fonem /p/ luluh. Akan tetapi, peluluhan itu tidak terjadi jika fonem /p/ merupakan bentuk yang mengawali prefiks per- atau dasarnya berawal dengan per- dan pe- tertentu.
Misalnya : mempelajari, memperbincangkan
5) Jika prefiks meng- ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /c/, /j/, dan /s/, bentuk meng- berubah menjadi men-, meny-, men-,
Misalnya : mencubit, mencopot, menjadikan, menjajakan, menyapu
6) Jika prefiks meng- ditambahkan pada dasar yang bersuku satu, bentuk meng- berubah menjadi menge-
Misalnya : mengetik, mengerem, mengepel, mengebom
7) Jika verba yang berdasar tunggal direduplikasi, dasarnya diulangi dengan mempertahankan peluluhan konsonan pertamanya. Dasar yang bersuku satu mempertahankan unsur nge- di depan dasar yang direduplikasi. Sufiks (jika ada) tidak ikut direduplikasi, misalnya : menulis-nulis, menari-nari, mengelap-ngelap

b. Morfofonemik Prefiks per-
Ada tiga peristiwa morfofonemik pada prefiks per-, yaitu:
1) Prefiks per- berubah menjadi pe- apabila ditambahkan pada dasar yang dimulai fonem /r/ atau dasar yang suku pertamanya berakhir dengan /er/
Misalnya : perasa, peraba, pekerja, peserta
2) Prefiks per- berubah menjadi pel- apabila ditambahkan pada bentuk dasar ajar.
 pelajariMisalnya : per- + ajari
3) Prefiks per- tidak mengalami perubahan bentuk jika bergabung dengan dasar lain di luar kaidah 1 dan 2 di atas.
Misalnya : perdalam, perluas, perkaya, perindah, perbaiki

c. Morfofonemik Prefiks ber-
Ada empat peristiwa morfofonemik pada prefiks ber-, yaitu :
1) Prefiks ber- berubah menjadi be- jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /r/
Misalnya : beransel, berupa, berenang, berendam
2) Prefks ber- berubah menjadi be- jika ditambahkan pada dasar yang suku pertamanya berakhir dengan /er/
 bekerjaMisalnya : ber + kerja
 besertaber + serta
 berkaryaBandingkan dengan : ber + karya
 berkurbanber + kurban
dalam kedua kata tersebut prefiks ber tidak berubah karena suku pertamanya tidak berakhir dengan /er/ tetapi /ar/ dan /ur/.
3) Prefiks ber- berubah menjadi bel- jika ditambahkan pada dasar tertentu
 belajarMisalnya : ber + ajar
4) Prefiks ber- tidak berubah bentuknya apabila digunakan dengan dasar di luar kaidah 1-3 di atas.
 berlayarMisalnya : ber + layar 
 bermainber +main 
 berperanber+peran

d. Morfofonemik Prefiks ter-
Morfofonemik ter mengalami dua peristiwa morfofonemik yaitu:
1) Jika suku pertama kata dasar berakhir dengan bunyi /er/, fonem /r/ pada prefiks ter- ada yang muncul dan ada pula yang tidak.
 terpercayaMisalnya : ter + percaya 
 tercerminter + cermin
2) Di luar kaidah di atas, ter- tidak berubah bentuknya.
 terpilihMisalnya : ter + pilih 
 terbawater + bawa
BAB III SIMPULAN

1. Peristiwa morfofenemik pada dasarnya adalah proses berubahnya sebuah fonem dalam pembentukan kata yang terjadi karena proses afiksasi karena pertemuan antara morfem dasar dengan afiks.
2. Morfofonemik terdapat pada setiap bahasa yang mengalami proses morfologi.
3. Morfofonemik adalah peristiwa fonologis yang terjadi pada proses morofologis sehingga dibahas pada bidang morfologi.
4. Analisis terhadap peristiwa morfofonemik perlu dilakukan agar dapat diketahui kaidah pembentukan kata yang benar dalam pemakaian bahasa serta dalam upaya memperkaya kasanah bahasa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal dan Junaiyah. 2007. Morfologi :Bentuk, Makna, dan Fungsi. Jakarta:PT Grasindo.
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta:Rineka Cipta.
Kridalaksana, Harimurti. 2007. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.
Verhaar. 2006. Asas-Asas Linguistik Umum. Yog







Reduplikasi - Pengulangan
A. Reduplikasi
Reduplikasi atau proses pengulangan ialah pengulangan satuan gramatik, baik seluruhnya maupun sebagiannya, baik dengan variasi fonem maupun tidak. Hasil pengulangan itu disebut kata ulang, sedangkan satuan yang diulang merupakan bentuk dasar (Ramlan, 2009: 63). Sedangkan menurut Moeliono Anton M. dan Dardjowidjojo Soenjono, reduplikasi adalah proses pengulangan kata secara utuh maupun sebagian.

    Contoh : 1. pohon-pohon dari bentuk dasar pohon
          2. perumahan-perumahan dari bentuk dasar perumahan
          3. berlari-lari dari bentuk dasar berlari
          4. corat-coret dari bentuk dasar coret

B.     Proses Reduplikasi
1.      Reduplikasi tidak mengubah golongan kata bentuk dasar yang diulang, jadi kelas bentuk dasar kata ulang tersebut masih sama dengan setelah terjadi pengulangan.  Sebuah nomina apabila diulang maka akan menjadi nomina pula.
Contoh: 1. Rumah (N)    à Rumah-rumah
 2. Berkata     à Berkata-kata
 3. Cepat     à Cepat-cepat
 4. Merah    à Kemerah-merahan

2.      Bentuk dasar kata ulang berupa satuan satuan yang terdapat dalam penggunaan bahasa. Sebagai contoh adalah kalimat
Irma memukul-mukulkan tongkat itu ke bangku.
Reduplikasi memukul-mukulkan memiliki kesempatan bentuk dasarnya berupa *memukul, *mukulkan, dan memukulkan. Kata memukul merupakan bentuk tak berterima seperti halnya mukulkan. Jadi jelas, kata ulang memukul-mukulkan berasal dari kata dasar memukulkan karena bentuk memukulkanlah yang berterima. Contoh lain adalah mengata-ngatakan berasal dari mengatakan bukan *mengata atau *ngatakan.

3.      Proses bentuk reduplikasi berafiks menurut Abdul Chaer (2008: 183-189)
a.       Akar berprefiks ber-
Ada dua macam pengulangan akar yang berprefiks ber-, yaitu:
1)      Pada akar mula-mula diimbuhkan prefiks ber-, lalu dilakukan pengulangan sebagian dan yang diulang hanya akarnya saja.
Contoh: - berlari-lari (dari ber + lari)
              - berteriak-teriak (dari ber + teriak)
              - berjalan-jalan (dari ber + jalan)
Pada contoh diatas kata lari-lari, teriak-teriak, dan jalan-jalan merupakan berterima.
2)      Pengulangan dilakukan serentak dengan pengimbuhan prefiks ber-
         Contoh: - behari-hari
                   - bermeter-meter
                   - berliter-liter
Pada contoh diatas kata hari-hari, meter-meter, dan liter-liter merupakan tidak berterima.
b.    Akar berkonfiks ber-an
Akar berkonfiks ber-an seperti pada kata berlarian dan berkejaran direduplikasikan sebagian, yaitu hanya akarnya saja.
Contoh: - berlari-larian (dari berlarian)
              - berkejar-kajaran (dari berkejaran)
              - berpeluk-pelukan (dari berpelukan)
c.     Akar berprefiks me-
Akar berprefiks me- seperti pada kata menembak dan menari direduplikasikan hanya akarnya saja. Ada dua macam cara
1)      Yang bersifat progresif artinya pengulangan ke arah depan atau ke arah kanan.
Contoh: - menembak-nembak (dasar menembak)
              - menari-nari (dasar menari)
              - mengulang-ulang (dasar mengulang)
2)      Yang bersifat regresif artinya pengulangan ke arah belakang atau ke arah kiri.
Contoh: - tembak-menembak (dasar menembak)
              - pukul-memukul (dasar memukul)
              - tendang-menendang (dasar menendang)
d.    Akar berklofiks me-kan
Akar berklofiks me-kan seperti pada kata membedakan, membesarkan, dan melebihkan direduplikasikan hanya akarnya saja.
Contoh: - membeda-bedakan (dari membedakan)
              - membesar-besarkan (dari membesarkan)
              - melebih-lebihkan (dari melebihkan)
e.     Akar berklofiks me-i
Akar berklofiks me-i seperti pada kata menulisi dan mengurangi direduplikasikan hanya akarnya saja.
Contoh: - menulis-nulisi (dari menulisi)
              - mengurang-ngurangi (dari mengurangi)
              - melempar-lempari (dari melempari)
f.     Akar berprefiks pe-
Akar berprefiks pe- seperti pada kata pemuda, pembina, dan pembaca direduplikasikan secara utuh.
Contoh: - pemuda-pemuda
              - pembina-pembina
              - pembaca-pembaca
Namun, kata pemuda, pembina, dan pembaca lebih sering dilakukan dengan memberikan adverbia para= para pemuda, para pembina, para pembaca.
g.    Akar berkonfiks pe-an
Akar berkonfiks pe-an seperti pada kata pembangunan dan penjelasan direduplikasikan secara utuh.
Contoh: - pembangunan-pembangunan
              - penjelasan-penjelasan
              - pembinaan-pembinaan
Bentuk-bentuk reduplikasi di atas boleh saja digunakan, tetapi akan lebih baik menggunakan adverbia semua= semua pembangunan, seluruh= seluruh pembinaan, dan sebagian= sebagian penjelasan bila ingin menyatakan plural.
h.    Akar berkonfiks per-an
Akar berkonfiks per-an seperti pada kata peraturan, perindustrian, dan perdebatan bila direduplikasikan haruslah secara utuh.
Contoh: - peraturan-peraturan
              - perindustrian-perindustrian
              - perdebatan-perdebatan
Bentuk-bentuk reduplikasi diatas boleh saja digunakan, tetapi akan lebih baik menggunakan adverbia semua= semua peraturanan, seluruh= seluruh perindustrian, dan sebagian= sebagian perdebatan daripada penggunaan bentuk reduplikasinya.
i.      Akar bersufiks –an
Akar bersufiks –an ada dua cara pereduplikasiannya.
1)      Mengulang secara utuh bentuk bersufiks –an.
Contoh: - bangunan-bangunan
              - aturan-aturan
              - latihan-latihan
2)      Mengulang akarnya sekaligus disertai dengan pengulangannya.
Contoh: - obat-obatan
              - biji-bijian
              - batu-batuan
Ada satu cara lagi yang kurang produktif, yakni dengan mengulang sebagian (hanya suku perama dari akar).
Contoh: bebatuan, tetumbuhan, pepohonan
j.      Akar berprefiks se-
Ada dua cara mereduplikasikannya:
1)      Diulang secara utuh
Contoh: sedikit-sedikit, seorang-seorang, sekali-sekali
2)      Hanya mengulang bentuk akarnya saja
Contoh: sekali-kali, sebaik-baik, sepandai-pandai
k.    Akar berprefiks ter-
Akar berprefiks ter- seperti pada kata terbawa, tersenyum, dan tertawa direduplikasikan hanya akarnya saja.
Contoh: terbawa-bawa, tersenyum-senyum, tertawa-tawa
l.      Akar berkonfiks se-nya
Akar berkonfiks se-nya seperti pada kata secepatnya, sebaiknya, dan sedapatnya direduplikasikan hanya akarnya saja.
Contoh: secepat-cepatnya, sebaik-baiknya, sedapat-dapatnya
m.  Akar berknfiks ke-an
Akar berkonfiks ke-an seperti pada kata keraguan, kemerahan, dan kebiruan direduplikasikan hanya akarnya saja sedangkan konfiks ke-an yang melingkupi bentuk perulangan itu.
Contoh: keragu-raguan, kemerah-merahan, kebiru-biruan
n.    Akar berinfiks (-em, el-, -er-, -m-)
Akar berinfiks direduplikasikan sekaligus dalam pengimbuhan infiks dan proses reduplikasi. Proses ini tidak produktif.
Contoh: tali-temali, getar-geletar, sambung-sinambung
4.      Sifat reduplikasi bisa bersifat paradigmatik dan juga bisa derivasional.
5.      Reduplikasi dapat berupa semantik yaitu reduplikasi yang tersusun dari dua kata yang maknanya bersinonim yang membentuk satu kesatuan. Misalnya: Hancur-luluh Terang-benderang, dan Gelap-gulita.

                                                                                                                                                                                                  
C.     Jenis-jenis Reduplikasi
1.      Pengulangan Akar
Berdasarkan cara mengulang bentuk dasarnya, reduplikasi dapat digolongkan menjadi empat golongan.
a)      Reduplikasi Dwilingga (Pengulangan Seluruh)
Reduplikasi dwilingga adalah pengulangan seluruh bentuk dasar, tanpa perubahan fonem dan tidak berkombinasi dengan proses perubahan afiks.
Contoh :
anak         à anak-anak
buah         à buah-buah
buku        à buku-buku
rumah        à rumah-rumah

b)      Reduplikasi Dwilingga Salin Swara
Reduplikasi dwilingga salin swara adalah pengulangan dengan variasi fonem.
Contoh :
balik     à bolak-balik
coret    à corat-coret
senyum    à senyam-senyum

c)      Reduplikasi Dwipurwa (Pengulangan Sebagian)
Redupliaksi dwipurwa adalah pengulangan sebagian dari bentuk dasarnya atau dengan kata lain bentuk dasarnya tidak diulang seluruhnya.
Contoh :
laki    à lalaki    à lelaki
luhur    à luluhur    à leluhur
tamu    à tatamu    à tetamu
tanam    à tatanam    à tetanam
tangga    à tatangga     à tetangga

d)     Reduplikasi Dwiwasana (Pengulangan Berafiks)
Reduplikasi dwiwasana adalah pengulangan dengan mendapat imbuhan (afiks) baik pada lingga pertama maupun pada lingga kedua.
Contoh :
kuda    à kuda-kudaan
main    à bermain-main
pukul    à memukul-mukul
putih    à keputih-putihan

2.      Pengulangan dasar berafiks
Pengulangan dasar berafiks menurut Chaer (2008: 182-183) memiliki tiga macam proses afiksasi dan reduplikasi
a)      Sebuah akar kata yang diberi afiks terlebih dahulu baru kemudian diulang atau direduplikasi.
Contoh: melihat menjadi melihat-lihat
b)      Sebuah akar direduplikasi dahulu baru kemudian diberi afiks.
Contoh: jalan-jalan menjadi berjalan-jalan
c)      Sebuah akar diberi afiks dan diulang secara bersamaan.
Contoh: minggu menjadi berminggu-minggu

3.      Reduplikasi Kompositum
Reduplikasi kompositum/gabungan kata/kata majemuk secara umum dapat dibedakan atas (a) yang kedua unsurnya sederajat, seperti tua muda, ayam itik, dan tikar bantal; dan (b) yang kedua unsurnya tidak sederajat seperti rumah sakit, surat kabar, dan keras kepala. Reduplikasi terhadap dasar kompositum dilakukan dalam dua cara:
(a)    Reduplikasi secara utuh
(1)   Reduplikasi secara utuh dilakukan terhadap yang kedua unsurnya sederajat
(2)   Reduplikasi secara utuh dilakukan terhadap yang kedua unsurnya tidak sederajat tetapi memiliki makna idiomatikal.
Contoh: - ayam itik-ayam itik
              - kasur bantal-kasur bantal
              - tua muda-tua muda
Bentuk-bentuk diatas direduplikasikan secara utuh karena kedua unsurnya membentuk satu kesatuan makna.
(b)   Reduplikasi secara sebagian
Reduplikasi secara sebagian dilakukan terhadap kompositum yang kedua unsurnya tidak sederajat dan tidak bermakna idiomatikal.
Contoh: - surat-surat kabar
              - rumah-rumah sakit
              - buku-buku agama
Bentuk-bentuk di atas diulang hanya sebagian karena kedua unsurnya tidak memiliki makna idiomatikal. Kedua unsurnya membangun makna gramatikal. Ada tiga catatan yang perlu diperhatikan, yaitu:
Pertama, dalam tata bahasa tradisional gabungan kata harus direduplikasikan secara utuh karena dianggap sebagai sebuah kata.
Kedua, gabungan kata yang kedua unsurnya tidak sederajat dan tidak bermakna idiomatikal, boleh saja direduplikasikan sebagian karena ada kaidah yang membolehkan dilakukan hanya sebagian.
Ketiga, sesungguhnya bentuk-bentuk kompositum tidak perlu direduplikasikan kalau hanya bertujuan mendapatkan makna plural. Untuk keperluan itu lebih baik menggunakan adverbia yang menyatakan plural, seperti semua, banyak, beberapa, sejumlah, dan sebagainya.
Contoh: banyak rumah sakit, beberapa surat kabar, semua jemaah haji
Catatan:
Selain yang dibicarakan di atas masih ada satu macam reduplikasi yang tidak produktif tetapi lazim dibicarakan orang. Reduplikasi itu adalah reduplikasi yang dilakukan tiga kali disertai perubahan bunyi. Contoh: dar-der-dor, cas-cis-cus, dag-dig-dug (Chaer, 2008: 189-191)

D.    Pemaknaan Reduplikasi
Terdapat beberapa makna reduplikasi:
1.      Banyak yang tak tentu
Contoh: buku-buku (tak tentu)
10 buku    (tentu)
2.      Bermacam-macam
Contoh: pepohonan,
3.      Menyerupai
Contoh: kuda-kudaan, anak-anakan
4.      Agak
Contoh: kekanak-kanakan
5.      Intensitas
a)      Kualitatif
Contoh: pukullah kuat-kuat
b)      Kuantitatif
Contoh: buah-buah
c)      Frekuentif
Contoh: mondar-mandir
6.      Saling
Contoh: pukul-pukulan, tembak-menembak
7.      Tak bersyarat
Contoh dalam kalimat:
    Jambu-jambu mentah dimakannya.
Pengulangan kata jambu dapat digantikan dengan kata meskipun menjadi:
    Meskipun jambu mentah, dimakannya.
8.      Berulang-ulang
Contoh : menendang-nendang, mencabik-cabik
9.      Menyatakan perbuatan yang dilakukan dengan enaknya, santainya, atau dengan senangnya.
Contoh:
berjalan-jalan    : berjalan dengan santainya
minum-minum    : minum dengan santainya
membaca-baca    : membaca dengan santainya
10.  Hubungan antara pekerjaan yang tersebut dengan kata dasar.
Contoh:
tulis-menulis    : hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan menulis
jahit-menjahit    : hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan menjahit
11.  Menyatakan batas ketercapaian.
Contoh    :
setinggi-tingginya, sekuat-kuatnya, sekencang-kencangnya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MORFOFONEMIK DALAM BAHASA INDONESIA"

Post a Comment