“DEFENISI DAN TEORI TENTANG AGAMA”


A.    Defenisi Agama menurut Ahli Antropologi

Tujuan utama pembahasan  agama adalah untuk memahami kehidupan beragama. Oleh karena itu,uraian ahli tentang agama juga diungkapkan bersamaan dengan defenisi agama. Kedua-duanya, defenisi dan penjelasan tentang agama sama-sama bertujuan untuk menjelaskan apa dan bagaimana kehidupan beragama, sama-sama untuk menarik kesimpulan dari fenomena kehidupan beragama.

1.    Edward Burnett Tylor (1832-1917)
Ia memandang asal mula agama adalah sebagai kepercayaan kepada wujud spiritual. Agama digambarkan sebagai kepercayaan kepada adanya ruh gaib yang berpikir, bertindak dan merasakan sama dengan manusia. Kepercayaan kepada yang gaib dalam aam punya asal-usul dari kepercayaan animisme dan dinamisme masyarakat primitif.

2.    Lucien Levy-Bruhl (1857-1945)
Ia membantah teori jiwa yang dikemukakan oleh tylor karena menurutnya tidak mungkin manusia primitif berpikir abstrak. Ini berarti agama adalah pandangan dan jalan hidup masyarakat primitif.

3.    James George Frazer ( 1854-1941)
Ia tidak mengemukakan defenisi agama secara spesifik. Dia membedakan religi dan magi yang sama-sama cocok bagi masyarakat modern yang sudah berpikir logis. Magis dikembangkan dengan harapan dapat memengaruhi proses alam menguntungkan manusia. Oleh karena itu, esensi agama, dalam pandangan Frazer, adalah ketergantungan atau kepercayaan kepada kekuatan supernatural.

4.    Radclife-Brown (1881-1955)
Ia mengemukakan defenisi “agama adalah ekspresi dalam satu atau lain bentuk tentang kesadaran terhadap ketergantungan kepada sesuat kekuatan diluar diri kita yang dapat dinamakan dengan kekuatan spritual atau moral.”
5.    Mircea Eliade (1907-1986)
Eliade anak seorang [egawai dalam angkatan darat Rumania. Ia berpengetahuan luas, banyak pengalaman ilmiah luar negeri dan juga penulis fiksi. Eliade percaya kepada indepedensi atau otonomi agama. Agama bukan penampilan dari ekonomi atau lainnya. Agama bukan hasil dari realitas yang lain, agama bukan suatu variabel dependen. Agama menurut Eliade, harus dipahami sebagai yang memengruhi aspek-aspek kehidupan yang lain, sebagai variabel independen.

6.    Edward E.E. Evans-Pritchard (1902-1073)
Pandangannya tentang agama penting dikemukakanya karena berbeda dengan pendapat-pendapat ahli lainnya. Menurutnya magi adalah kepercayaan bahwa beberapa aspek kehidupan dapat dikontrol atau direkayasadengan kekuasaan mistik atau kekuatan supernatural.

7.    Clifford Geerts (lahir 1926)
Clifford Geerts pembela pendekatan fenomenologis. Dalam mengkaji agama dan kebudayaan ia menamkan dengan pendekatan interpretatif. Menurutnya kebudayaan hanyalah konteks makna yang dioahami bersama atau struktur arti yang mapan walaupun disadarinya pula bahwa simbol juga menduduki peran penting dalam kehidupan.

B.    TEORI TENTANG AGAMA

1.    Teori Tentang Asal-Usul Agama

•    Teori berorientasi kepada keyakinan keagamaan
R.R.Maret (1886-1940) berpendapat bahwa kepercayaan beragama berasal dari kepercayaan akan adanya kekuatan gaib luar biasa yang menjadi penyebab dari gejala-gejala yang tidak dapat dilakukan manusia dewasa.

•    Teori yang berorientasi kepada sikpa manusia taerhadap yang gaib
Rudolf Otto menekankan sikap kagum terpesona dari penganut agama terhadap zat yang gaib, maha dasyat, maha baik, maha adil, maha bijaksana dan keramat.

•    Teori yang berorientasi kepada upacara religi
M.T.Preusz seorang etnografer jerman yang ahli tentang suku Indian di Meksiko, berpendapat bahwa wujud religi tertua adalah tindakan-tindakan manusia untuk mewujudkan kperluan hidupnya yang tidak dapat dicapai dengan akal dan kemampuan biasa.


2.    Teori dari Berbagai Tijauan Ilmu

•    Teori Linguistik
Friedrich Max Muller melanjutkan kajian agama dengan teori linguistik. Ia dilahirkan dijerman dan mempelajari filologi dan mitologi komparatif sebelum melanjutkan studi ke Oxford.

•    Teori Rasionalisik
Merupakan keyakinan ilmuan bahwa manusia prasejarah menjelaskan kepercayaan mereka hampir dekat dengan kepercayaan ilmia,tetapi mereka sampai kepada kesimpulan yang salah karena kekurangan pengetahuan dan pengalaman mereka.

•    Teori Sosiologis
Teori ini menunjukkan perhatian kepada pertanyaan tentang apa fungsi agama bagi kehidupan manusia.

•    Teori Migrasi dan Difusi
Kalau koenjaraningrat menamakan teori Wolhem Schmid dengan tori teologi, Malefijt menamakannya dengan teori migrasi dan difusi. Lain halnya dengan teori difusi dikemukakan oleh G. Elliot Smith dan muridnya E.J. Perry. Smith menulis bahwa manusia alami, primitif atau tidak pandai tulis baca tidak punya sesuatu yang patut dicatat, baik dalam hal agama, seni dll.

•    Teori Psikologis
Sigmund Freud mulanya seorang dokter medis. Ia menyaksikan banyak penyakit fisik dilatarbelakangi oleh gangguan jiwa. Ia juga menulis tentang agama dan agama masyarakat primitif. Gangguan manusia menurutnya, disebabkan keinginan hewani manusia yang terkumpul dalam alam bawah sadar jiwa manusia banyak yang terhalang untuk direalisasi oleh nilai-nilai ideal yang berada dalam jiwamanusia dinamakan superego.

•    Teori fenomenologis
Kajian terhadap sesuatu menurut yang dimaksud sendiri oleh objek yang dikaji. Suatu masyarakat yang menjadi objek penelitian dengan pendekatan fenomenologis berarti berusaha memahami maksud simbol, kepercayaan atau ritual menurut yang mereka pahami sendiri.


3.    Teori dari Segi Ideologis

•    Teori modernisme
Sebagai ilmu yang dikembangkan oleh budaya menernisme bara, antropologi agama tidak terlepas dari sudut pandan modernisme tersebut. Sudut pandang atau paradigma modernisme adalah anggapan bahwa kebudayaan materialis dan sekular Baratla yang maju.

•    Teori Struktural Fungsionalisme
Penganut teori struktur fungsionalisme berpendiriran bahwa suatu sistem budaya merupakan struktur tersedniri yang fungsional terhadap sistem budaya yang lain secara keseluruhan.

•    Teori posmodernisme
Pandangan psmodernisme memamndang kemajuan, kebenaran dan budaya bersifat relatif. Kaum modernisme balik menuduh bahwa posmodernisme adalah pandangan nihilisme tidak ada suatu kebenaran tertentu

•    Teori Religius
Adanya teori yang didasarkan kepada pandangan terhadap sebagaiman telah diungkap diatas Koenjaraningrat  adalah teori religius, teori yang dikembangkan dari keyakian kegamaan yang mengemukakannya.
Adanya teori yang dikembangkan dari ajaran agama tentu tidak disetujui oleh ilmawan yang berpendapat bahwa teori ilmiah harus objektif, bebas dari pengaruh nilai dan budaya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "“DEFENISI DAN TEORI TENTANG AGAMA”"

Post a Comment