Perubahan status zat gizi antioksidan selama suplementasi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sesudah suplementasi terjadi perubahan status zat gizi antioksidan sampel. Pada sampel yang mendapat perlakuan suplementasi plasebo hampir tidak mengalami perubahan persentase kekurangan zat gizi antioksidan. Pada sampel yang mendapat suplementasi vitamin C mengalami penurunan persentase kekurangan vitamin C dari 60.9 persen menjadi 8.7 persen, sedangkan sampel yang mendapat suplementasi MVM mengalami penurunan persentase kekurangan vitamin A dari 13.3 persen menjadi 6.7 persen, vitamin E dari 75 persen menjadi 40.6 persen, penurunan vitamin C dari 62 persen menjadi 58 persen dan penurunan persentase sampel yang mempunyai kadar SOD dibawah normal dari 64.5 persen menjadi 16 persen (Tabel 7).
BAHASAN
Vitamin C dikenal luas sebagai antioksidan. Kekuatan vitamin C sebagai antioksidan larut air disebabkan karena kemampuan vitamin C dalam mereduksi. Vitamin C antara lain mereduksi superoxide menjadi hidrogen peroksida, atau Fe3+ menjadi Fe2+, atau reduksi unsur logam lainnya. Setelah perpindahan satu elektron, vitamin C menghasilkan radikal monodehydroascorbate. Radikal ini akan berubah menjadi askorbat dan dehydroaskorbat. Kebanyakan jaringan tubuh mempunyai enzim glutathione-dependent monodehydroascorbat reductase dan NADPH yang akan mereduksi radikal tersebut menjadi askorbat kembali. Dehydroaskorbat tidak stabil dalam larutan, dan akan mengalami pemecahan gugus cincinnya menjadi diketogulonic acid. Akan tetapi, dehydroaskorbat biasanya direduksi oleh NADPH atau glutathione dependent reductase menjadi askorbat23. Vitamin C juga diperlukan dalam beberapa proses di dalam tubuh seperti biosintesis, carnitin yang mentransfer lemak, hormon adrenalin, cortison, transpor elektron dalam banyak reaksi enzimatik, melindungi integritas dari pembuluh darah, melindungi gusi dan meningkatkan fungsi imunitas24.
Kekurangan vitamin C dapat menimbulkan tanda-tanda klinis seperti pendarahan atau bengkak di gusi, nyeri persendian, atau konsentrasi vitamin C di plasma, darah dan leukosit yang sangat rendah. Kekurangan vitamin C akut dapat menyebabkan skorbut. Seseorang dengan kekurangan vitamin C dapat menurunkan kekebalan seluler25 .
Kelebihan vitamin C dari makanan jarang terjadi, akan terjadi jika mengkonsumsi suplemen vitamin C secara berlebihan, dimana dapat menimbulkan hiperoksaluria dan resiko lebih tinggi yaitu terbentuk batu ginjal17. Efek samping lainnya bila mengonsumsi vitamin C dosis tinggi yaitu dapat mengganggu saluran pencernaan dan diare2, akan tetapi selama mengonsumsi dengan dosis di bawah Upper Limit (UL) yaitu 2000 mg/hari tidak menimbulkan efek negatif26.
Vitamin E merupakan antioksidan larut lemak terbesar di dalam sistem pertahanan antioksidan sel dan hanya didapat dari makanan. Peranan besar vitamin E adalah melindungi poly unsaturated fatty acid (PUFAs) dan komponen lain dari membran sel dan low-density lipoprotein (LDL) dari oksidasi oleh radikal bebas. Vitamin E terletak di dalam lapisan phospolipid dari membran sel, sehingga sangat efektif dalam melindungi kerusakan lemak tak jenuh2,17.
Vitamin E juga mempunyai fungsi utama sebagai chain-breaking antioxidant. Vitamin E memberikan hidrogen dari grup hydroksil (-OH) pada struktur radikal bebas, sehingga radikal bebas menjadi tidak reaktif. Vitamin E menghentikan peroksidasi lemak radikal bebas dengan memberikan elektron tunggal untuk membentuk tokoferil kuinon yang stabil dan teroksidasi sempurna21 ,oleh karena itu keberadaan vitamin E di dalam tubuh sangat diperlukan.
Salah satu radikal bebas yang banyak ditemukan di dalam tubuh kita adalah superoksida. Radikal superoksida terbentuk ketika oksigen tereduksi, yang terjadi di membrane mitokondria bagian dalam. Radikal ini dapat memicu reaksi berantai pada asam lemak phospholipid, sehingga terjadi peroksidasi lipid pada membran dan hilangnya lapisan membran yang penting untuk fungsi reseptor dan enzim yang terikat pada membran. Dalam keadaan stres oksidatif , lebih banyak radikal oksigen dihasilkan, melebihi antioksidan seluler, dan akan menyebabkan peroksidasi asam lemak tak jenuh-ganda pada struktur membran. Peroksidasi lipid juga akan melepas radikal bebas reaktif dan juga aldehid yang toksik, yang akan menginaktivasi enzim dan komponen seluler lainnya secara menyeluruh. Beberapa antioksidan enzimatik dan non-enzimatik ada di dalam sel untuk melindungi membran sel dan organ sel lainnya dari efek reaksi radikal bebas yang merusak22.
Salah satu kelompok rawan terpapar stres oksidatif adalah para pekerja dengan berdiri. Kelompok ini beresiko terkena hipertensi vena tungkai bawah yang merupakan pemicu terjadinya CVI (chronic venous insufficiency). Kerusakan dinding pembuluh darah ini diantaranya dimediasi oleh SOR (spesies oksigen reaktif) diantaranya radikal superoksida yang berperan melalui dua mekanisme. Yang pertama adalah melalui oksidasi membran dan dilanjutkan dengan kerusakan endothelium yang akan berujung pada meningkatnya permeabilitas vaskuler. Mekanisme yang kedua adalah melalui kemotaksis dan aktivasi leukosit dan trombosit. Kedua mekanisme ini terjadi bersamaan dan akan meningkatkan kerusakan sel dan memperburuk cloting pada vena7. Spesies oksigen reaktif dapat terbentuk ketika metabolisme normal atau dari luar tubuh seperti polutan dan radiasi ultra violet2,16. Untuk dapat menangkal SOR diperlukan konsumsi zat gizi antioksidan seperti vitamin E dan vitamin C yang cukup. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian multi vitamin-mineral pada wanita pekerja dapat meningkatkan kadar vitamin E, dan kadar SOD secara signifikan (p<0.05), sementara itu pemberian single vitamin C hanya memperbaiki status vitamin C darah sampel yang mendapat perlakuan suplementasi vitamin C secara signifikan (p<0.05), namun tidak cukup kuat di dalam menangkal radikal bebas. Hal ini lebih disebabkan karena single vitamin C tidak berinteraksi dengan vitamin atau mineral lainnya sehingga vitamin C yang diterima oleh tubuh dapat segera diserap oleh tubuh untuk memperbaiki status vitamin C, karena status vitamin C sampel pada awal penelitian dalam keadaan rendah. Sementara itu vitamin C yang terdapat di dalam suplemen MVM berinteraksi dengan vitamin lainnya seperti membantu kerja dari vitamin E sebagai pemutus rantai radikal bebas. Seperti di ketahui bahwa vitamin E dikenal sebagai antioksidan yang mampu menghentikan rantai reaksi radikal bebas (chain breaking antioxidant). Dengan menyumbangkan hidrogen, vitamin E sendiri menjadi vitamin E teroksidasi16,21. Vitamin E teroksidasi yang terbentuk dapat diregenerasi oleh senyawa pereduksi seperti vitamin C sehingga vitamin E kembali menjadi vitamin E bebas dan kemudian dapat bekerja kembali memutus rantai radikal bebas. Keadaan ini terlihat pada hasil penelitian ini dimana vitamin C yang terdapat di dalam MVM kurang digunakan untuk memperbaiki status vitamin C tetapi membantu menangkal radikal bebas dengan membaiknya status SOD sebagai salah satu marker antioksidan. Membaiknya status SOD menunjukkan bahwa tubuh sudah tidak banyak menggunakan SOD untuk menangkal radikal bebas, kemungkinan lainnya membaiknya status SOD karena pengaruh mineral yang terdapat di dalam komposisi MVM seperti Zn, Cu yang sangat mempengaruhi aktivitas SOD

0 Response to "Perubahan status zat gizi antioksidan selama suplementasi "
Post a Comment