Pengaruh suplementasi terhadap kadar zat gizi antioksidan

Vitamin A 

β karoten sebagai prekursor vitamin A merupakan antioksidan larut lemak yang berperan di dalam mempertahankan kesehatan mata dan integritas membran sel menjadikan senyawa ini bersifat vital bagi manusia. β-karoten sebagai pro-vitamin A sangat berperan di dalam “quenching” yaitu proses menginaktifkan molekul yang elektronnya tereksitasi. β-karoten melepaskan electron pada ikatan rangkap duanya kepada radikal bebas, misalnya 1O2 + β-karoten menghasilkan 3O2 + β-karoten yang tereksitasi. Kekuatan β-karoten di dalam menginaktifkan radikal bebas dibandingkan dengan antioksidan lainnya dapat diurutkan sebagai berikut : lycopen > vitamin E > α- karoten > β-cryptosantin > β-karoten > lutein. Kekuatan sebagai antioksidan akan lebih besar bila lycopen dan lutein bergabung dibandingkan bekerja sendiri- sendiri16. 

Vitamin A yang terdapat di dalam makanan sebagian besar terdapat dalam bentuk ester retinil, bersama karotenoid bercampur dengan lipida lain di dalam lambung. Di dalam sel-sel mukosa usus halus, ester retinil dihidrolisis oleh enzim-enzim pankreas esterase menjadi retinol yang lebih efisien diabsorpsi daripada ester retinil. Sebagian dari karotenoid, terutama β-karoten di dalam sitoplasma sel mukosa usus halus dipecah menjadi retinol17. 

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebelum suplementasi, rata-rata kadar vitamin A pada perlakuan plasebo 1.00 ± 0.31µmol/l, Vitamin C 0.96± 0.27 µmol/l, dan MVM 1.11 + 0.38 µmol/l. Hasil uji statistik menunjukkan rata-rata kadar vitamin A pada ketiga perlakuan tidak berbeda makna (p>0.05). (Tabel 3). 

Setelah 10 minggu suplementasi terjadi perubahan kadar vitamin A, yakni kadar vitamin A pada perlakuan plasebo menjadi 0.95 + 0.32 µmol/l, Vitamin C 0.98 + 0.26 µmol/l, dan MVM 1.13 + 0.42 µmol/l. Hasil uji statistik menunjukkan rata-rata perubahan kadar vitamin A tidak berbeda nyata antara ketiga perlakuan (p>0.05). 



Tidak adanya perubahan kadar vitamin A pada ketiga perlakuan, kemungkinan karena status vitamin A sampel sebelum suplementasi dalam keadaan normal (> 0.7 µmol/l), sehingga pemberian Multi vitamin-mineral (MVM) atau vitamin C tidak banyak berpengaruh. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Kay et al. dan Wolters et al. dimana suplementasi multi vitamin-mineral tidak memperbaiki status vitamin A sampel karena status vitamin A pada saat baseline dalam keadaan normal18,19. 

Vitamin E 

Vitamin E atau α-tokoferol merupakan antioksidan yang larut dalam lemak. Vitamin ini banyak terdapat dalam membran eritrosit dan lipoprotein plasma. Vitamin E terutama cincin fenolnya mampu memberikan ion hidrogennya kepada radikal bebas. Diantara beberapa bentuk vitamin E, bentuk α-tocoferol lebih efektif dibandingkan dengan beta, gama dan delta tocoferol. Ion hidrogen dari α-tocoferol sangat efektif dan cepat bereaksi dengan beberapa radikal bebas dan menghentikannya sebelum menghancurkan membran sel dan komponen-komponen sel lainnya. 



Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum suplementasi, rata-rata kadar vitamin E pada perlakuan plasebo yakni 8.9 ± 2.2 µmol/L, vitamin C 8.6 ±2.6 µmol/L, MVM 8.9±2.9 µmol/L. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa rata-rata kadar vitamin E pada ketiga perlakuan tidak berbeda nyata (p>0.05). (Tabel 4). 

Setelah 10 minggu suplementasi terjadi peningkatan kadar vitamin E, yakni kadar vitamin E pada perlakuan plasebo menjadi 9.5±2.3 µmol/L, vitamin C 9.2±2.5 µmol/L, dan MVM 13.54±4.2 µmol/L (Tabel 4). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa rata-rata kadar vitamin E pada ketiga perlakuan berbeda nyata (p<0.05). Uji Anova dan BNT menunjukkan suplementasi MVM mempengaruhi kenaikan kadar vitamin E secara signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa suplementasi MVM lebih berpengaruh dalam peningkatan vitamin E dibandingkan suplementasi vitamin C maupun plasebo. Hal ini kemungkinan karena suplemen multi-vitamin mineral (MVM) mengandung vitamin E sebesar 45 mg (300 RDA), oleh karena itu pemberian vitamin E selama 10 minggu mampu meningkatkan kadar vitamin E serum sampel karena status vitamin E sampel pada awal penelitian rendah. 

Vitamin C 

Vitamin C merupakan antioksidan yang larut dalam air (aqueous antioxidant). Peranan vitamin C sebagai antioksidan, ditunjukkan oleh kemampuan vitamin C dalam menyumbangkan elektron ke dalam reaksi biokimia intraseluler dan ekstraseluler sehingga vitamin C mampu menghilangkan senyawa oksigen reaktif di dalam sel seperti sel netrofil, monosit, sel retina2. 

Vitamin C juga diperlukan dalam proses regenerasi vitamin E teroksidasi. Oleh karena itu keberadaan vitamin C sangat membantu regenerasi vitamin E sehingga dapat berperan kembali di dalam memutus rantai radikal bebas. Selain itu, vitamin C juga dapat menginduksi pelepasan besi ferri dari ferritin dengan mereduksi besi menjadi ferro16. 

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebelum suplementasi, rata-rata kadar vitamin C pada perlakuan plasebo yakni 10.28 + 2.8 µmol/L, Vitamin C 10.48 + 2.4 µmol/L, dan MVM 11.22 + 3.0 µmol/L. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa rata-rata kadar vitamin C tidak berbeda nyata antara ketiga perlakuan (p>0.05). (Tabel 5). 

Setelah suplementasi selama sepuluh minggu, terjadi perubahan kadar vitamin C sampel yaitu pada plasebo 9.79 + 2.2 µmol/l, Vitamin C 15.13 + 3.12, MVM 10.85 + 3.01 µmol/l. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa rata-rata kadar vitamin C ketiga perlakuan berbeda nyata (p<0.05). Hasil uji Anova dan BNT menunjukkan suplementasi vitamin C mempengaruhi kenaikan kadar vitamin C secara signifikan pada sampel yang mendapat suplemen vitamin C.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pengaruh suplementasi terhadap kadar zat gizi antioksidan "

Post a Comment