Pengemulsi, Pemantap, dan Pengental
Zat ini dapat membantu mempercepat tercampurnya 2 jenis zat yang secara alaminya tidak dapat bercampur. Gelatin biasa digunakan pada sosis, kristal jeli, sebagai pembentuk gel pada pembuatan roti dan puding, pemantap pada pembuatan es krim, es susu, keju, pudding, sebagai pembentuk suspensi dan pengental untuk minuman buah- buahan dan minuman lainnya, pembentuk buih pada bir, pengemulsi dan pembentukan pada saos, dan pembentukan lapisan tipis dalam pelapisan daging, ikan, dna pengolahan pakan lainnya. Penggunaan pada pengemulsi, pemantap, dan pengental harus dibatasi penggunaannya. Jika dikonsumsi melebihi dosis yang ditentukan dapat mengakibatkan keracunan tertentu pad anak-anak, erosi pada gigi dan iritasi lokal, mengubah sekresi air kemih jika diberikan bersama dengan pemberian obat, maka obat menjadi kurang efektif bekerja, bahkan dapat menjadi racun, mengikat logam-logam yang diperlukan tubuh,
dan menghambat proses penyerapan nutrisi.
Pengatur Keasaman
Biasa disebut asidulan digunakan sebagai penegas rasa, warna, dan penyelubung rasa yang tidak disukai, bertindak juga sebagai bahan pengawet. Tujuan utama dari pengatur keasaman adalah memberikan rasa asam pada makanan. Bahan ini biasa digunakan pada sarden, pangan bayi, sayuran, buah-buahan, dan lainnya. Jika digunakan secara berlebihan di luar batas normal dapat menimbulkan keracunan pada lambung.
Pemutih, Pematang Tepung, dan Pengeras
Pemutih dan pematang tepung kerap kali digunakan pada tepung agar tepung (terutama tepung gandum yang berwarna agak kecokelatan)dapat lebih berwarna putih sehingga terlihat lebih menarik, serta meningkatkan fungsi tepung sehingga adonan tepung ketika dibakar dapat lebih mengembang. Sedangkan pengeras biasanya digunakan sebagai pengeras keripik, dan buah kalengan. Untuk pengeras biasa digunakan untuk produk pengolahan makanan agar makanannya tetap terjaga keras dan tidak lunak. Biasanya pengeras digunakan untuk buah-buahan seperti irisan apel, sayur-sayuran seperti tomat, kentang, paprika, wortel, dan makanan lainnya yang dikalengkan atau dibekukan. Penggunaan bahan-bahan tersebut harus dibatasi agar tidak berbahaya bagi kesehatan yang mengkonsumsinya seperti diare, dan bagi penderita hiperparatiroidismus menimbulkan tingginya kadar kalsium dalam darah.
Bahaya Pencemaran Mikroba
Jajan sembarangan di pinggir jalan tentunya rawan dengan mikorba, kuman, dan bakteri karena langsung kontak dengan udara luar, dekat dengan saluran pembuangan got, serta pembuatannya yang tidak terlalu memperhatikan kebersihannya. Makanan dan minuman jajanan yang tercemar sangatlah berbahaya bagi yang menikmatinya, yaitu dapat menyebabkan keracunan dan penyakit. Berdasarkan hasil penelitian mahasiswa Fakultas Tenologi Pertanian UGM terhadap kasus keracunan makanan sepanjang tahun 2003
sampai 2005 yang diberitakan di berbagai media massa online menggambarkan kondisi keamanan pangan di Indonesia, Menurut korordinator Kelompok Pemerhati Keamanan dan Mutu Produk Pangan (KPKMPP), Dr. Ir. Endang. S. Rahayu, MS, terdapat jumlah peningkatan kasus keracunan selama tiga tahun terakhir sampai tahun 2005, dan sebagian besar kasus keracunan tersebut diduga disebabkan oleh mikroorganisme, terutama bakteri patogen.
Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa 18 kasus keracunan sebanyak 83,3 % disebabkan oleh bakteri patogen. Begitu pula dengan tahun 2004 dan 2005 yang menyebutkan bahwa 60 % dari 41 kasus keracunan dan 72,2 % dari 53 kasus keracunan disebabkan karena mikroorganisme, dan lagi-lagi karena bakteri patogen. Dari hasil penyelidikan tersebut menyimpulkan bahwa sebagian besar kasus keracunan ebrsumber dari industri jasa boga, pengolahan rumah tangga yang diolah secara massal, yang termasuk pula makanan jajanan. Makanan yang disajikan tidak begitu diperhatikan kebersihannya dan kurang higienis.
Kebanyakan dari para pedagang jajanan juga menyajikan dagangannya tanpa mencuci tangan terlebih dahulu, padahal tidak ada yang tahu sebelum memegang makanan tersebut mereka sudah memegang apa saja. Begitu pula dengan barang dagangannya yang sering tidak tertutup rapat, sehingga debu dan timbal dari kendaraan berasap dapat dengan bebas mencemari makanan dan minuman tersebut.
Konsumsi makanan yang tercemar menimbulkan resiko penyakit tifus yang disebabkan oleh kuman bernama Salmonella typi yang hidup di air, tanah kerin, dan tempat pembuangan sampah. Penyakit lain yang dapat timbul karena konsumsi makanan yang kurang higienis adalah cacingan. Telur-telur cacing biasanya terdapat di kuku para penjual jajanan gado-gado, rujak, buah dingin, soto, bakso, karedok, ketoprak, dan lain- lain. Jenis-jenis cacing ini adalah cacing kremi, cacing tambang, cacing gelang, cacing cambuk, dan lainnya yang masuk ke makanan melalui tangan pedagang karena mereka tidak mencuci tangan dengan bersih setelah buang air besar. Para penderita cacingan, termasuk orang dewasa biasanya tidak akan mengetahuinya sebelum melakukan pemeriksaan laboratorium tinja. Pada anak sekolah, penyakit cacingan dapat mengakibatkan penyakit anemia (kurang darah).

0 Response to "Pengemulsi, Pemantap, dan Pengental"
Post a Comment