Bahaya Kesalahan Proses Pengolahan Makanan

Menyantap gorengan di pimggiran seperti ubi, tempe, tahu, bakwan, tahu, singkong, dan lainnya sudah menjadi kebiasaan bagi banyak orang, tak terkecuali pada anak-anak. Menurut peneliti dari jurusan kimia lingkungan, Universitas Stockhlom, Swedia 

bernama Eden Tareke, dkk menyatakan hasil penelitiannya berjudul Analysis od Acrylamide, a Carsinogen Formed in Heated Foodstuffs yang dimuat pada majalah ilmiah Agricultural and Food Chemistry edisi Juli 2002 menunjukan bahwa makanan yang kaya karbohidrat seperti kentang yang mengalami penggorengan dapat merangsang pembentukan senyawa karsinogenik yang dapat memicu penyakit kanker bernama akrilamida. 


Bahaya pada Kemasan dan Wadah Makanan 


Jajanan makanan tentunya tidak terlepas dari kemasan itu sendiri. Kemasan memang bermanfaat sebagai wadah dan tempat untuk memudahkan makanan tersebut dimakan dan minuman tersebut untuk diminum. Tetapi di balik itu semua, kemasan makanan itu sendiri jika tidak didukung dengan bahan yang baik, maka dapat berbahaya bagi konsumen. 
• Plastik 


Kemasan jajanan berbahan plastik sangat sering dijumpai dan sudah sangat tidak asing, terutama bagi yang sering mengkonsumsi jajanan di pinggiran. Plastik sering digunakan untuk jajanan seperti siomay, batagor, cilok, sosis goreng, dan banyak lainnya. Plastik memiliki kelebihan karena tahan lama dan praktis untuk digunakan, namun plastik juga memiliki kelemahan, yaitu tidak tahan panas dan apabila salah penggunaannya dapat emncemari produk makanan itu sendiri. Kemasan plastik terbuat dari bahan polypropilen, polyvinylchlorida (PVC) yang bila dibakar atau dipanaskan dapat menimbulkan dioksin, yaitu suatu jenis zat beracun yang dapat menyebabkan penyakit kanker dan mengurangi sistem kekebalan tubuh. Untuk itu, plastik yang terkena makanan panas dapat menyebabkan perpindahan komponen- komponen kimia berbahaya tersebut ke dalam makanan. 


Menurut Dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr. Ir. Yadi Haryadi, M.Sc.aspek yang perlu diperhatikan pada penggunaan plastik pada botol yang digunakan berkali-kali adalah dari segi kebersihannya. Jika botol yang dipakai berulang-ulang tidak dibersihkan, maka pasti akan tercemar mikroba dan memicu penyakit, terutama penyakit pencernaan. 



• Kaleng 


Makanan jajanan yang dikemas dengan memakai kaleng masih jarang dijumpai. Untuk jajanan seperti martabak, kaleng biasa dijumpai pada kemasan mentega untuk membuat martabak tersebut, dapat juga dijumpai pada kemasan selai untuk jajanan roti panggang. Bahaya utama pada makanan kaleng, yaitu tumbuhnya bakteri Clostridium botulinum, yang dapat mengakibatkan keracunan botulinin bagi yang mengkonsumsi. Tanda-tanda keracunan pada zat ini adalah tenggorokan menjadi kaku, mata berkunang-kunang dan kejang-kejang yang membawa kematian karena sukar bernafas. Bakteri ini biasanya tumbuh pada kaleng yang tidak sempurna pengolahannya atau pada kaleng yang bocor sehingga makanan di dalamnya terkontaminasi udara dari luar. Namun, racun botulinin peka terhadap pemanasan, sehingga akan mati ketika terkenan panas. 

• Styrofoam 

Kemasan berbahan styrofoam atau bisa juga disebut polystyrene sering menjadi pilihan para pedagang untuk dipakai karena dapat mencegah kebocoran, dan dapat tetap mempertahankan bentuknya saat dipegang. Selain itu bahan ini dapat mempertahankan panas dan dingin, tetapi tetap nyaman dipegang, mempertahankan kesegaran dan keutuhan bahan yang dikemas, biaya murah, lebih aman, serta ringan. Bahan ini sering digunakan untuk kemasan pada makanan katering, mie instan, makanan siap saji, sayur-sayuran, buah-buahan. Penggunaan bahan styrofoam diragukan keamanannya, karena bahan utama pembuatan styrofoam yaitu stiren dan butadien sebagai bahan penguat, maupun DOP datau BHT sebagai plasticier-nya bersifat mutagenik (mampu mengubah gen) dan potensial karsinogen (merangsang pembentukan sel kanker). Bahan-bahan tersebut, khususnya stiren dapat larut dalam air, lemak, alkohol, maupun asam. Semakin lama penggunaan bahan ini pada makanan, maka semakin besar perpindahan bahan-bahan yang bersifat toksik ke makanan atau minuman yang ada di dalamnya, terutama apabila makanan atau minuman tersebut mengandung lemak atau minyak. 


Divisi Keamanan Jepang, Juli, 2001, menyatakan bahwa residu styrofoam dalam makanan dapat menyebabkan endocrine disrupter (EDC), yaitu suatu penyakit yang terjadi akibat adanya gangguan sistem endokrinologi dan reproduksi manusia akibat bahan kimia karsinogen pada makanan. Di Indonesia pada jajanan pinggiran, styrofoam terkadang dipakai sebagai wadah makanan, sehingga bisa dipakai sekali lalu langsung dibuang. 


• Kertas 


Bahan kemasan ini sangat banyak dipakai oleh para pedagang jajanan pinggiran. Jajanan seperti gorengan tempe, tahu, bakwan, pisang, ubi, singkong, donat, bolang- baling, lumpia, piscok, dan banyak lainnya biasa dikemas dalam keadaan masih panas dengan menggunakan kertas koran dan majalah bekas. Bahan kertas koran dan majalah ini mengandung timbal (Pb) melebihi batas yang ditentukan. Bahan yang panas dapat mempermudah perpindahan timbal ke makanan, jika dikonsumsi, timbal masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernafasan dan pencernaan menuju sistem peredaran darah dan menyebar ke berbagai jaringan lain seperti ginjal, hati, otak, syaraf, dan tulang. 

• Melamin 

Bahan ini sering digunakan sebagai bahan pembuatan mangkok, piring, sendok, dan berbagai jenis peralatan rumah tangga lainnya. Alasan penggunaan melamin digunakan adalah karena bahan ini ringan dan tidak mudah pecah sehingga mudah dan praktis dibawa kemana saja. Menurut penelitian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang bekerja sama dengan jurusan Kimia FMIPA Universitas Indonesia terhadap 10 jenis merk (4 merk loka, 6 merk import) menunjukan bahwa tidak semuanya menunjukan food grade yang berarti bahwa mengandung zat beracun dan berbahaya yang dapat berpindah ke makanan akibat proses pengolahan makanan.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bahaya Kesalahan Proses Pengolahan Makanan "

Post a Comment