Dari Teologi Protestan Kepada Filsafat
Perkembangan
hermeneutika dari diskursus teologi menjadi pembahasan filsafat bersamaan
dengan perubahan pandangan hidup masyarakat Barat Modern dan Postmodern. Abad ke
18 dianggap sebagai awal periode berlakunya proyek modernitas, yaitu pemikiran
rasional yang menjanjikan pembebasan (liberasi) dari irrasionalitas mitologi,
agama dan khurafat.[1] Ini
sebenarnya adalah gerakan sekularisasi yang mengarah pada desakralisasi ilmu
dan institusi sosial. James E.Crimmins mencatat bahwa ketika gerakan
desakralisasi atau dalam bahasa Weber ‘disenchantment’ terjadi di Barat, ilmu
diletakkan dalam posisi berlawanan dengan agama yang dianggap penyebab
kemunduran.[2] Alain
Finkielkraut dalam buknya The Defeat of the Mind menggambarkan nasib
agama dizaman modern di Barat.
What they called God
was no longer the Supreme Being, but collective reason……From now on God existed
within human intelligence, not beyond it, guiding people’s action and shaping
their thoughts without their knowing it.
Instead of communicating with all creatures, as His namesake did, by means of
the Revelation, God no longer spoke to man in a universal tongue; He now spoke
within him, in the language of his nation.[3]
Maksudnya apa yang disebut Tuhan bukan lagi Yang Mahakuasa,
tapi telah berubah menjadi akal kolektif. Jadi Tuhan berada dalam akal manusia,
bukan diluarnya, dan tidak mengarahkan pekerjaan orang dan menentukan pemikiran
mereka tanpa mereka ketahui. Medium komunikasi Tuhan dengan ciptaanNya bukan
lagi melalui wahyu, tapi melalu bahasa universal, Ia berbicara dalam diri
manusia dalam bahasa bangsanya.
Di dalam milieu pemikiran inilah makna hermeneutika berubah
menjadi metodologi filsafat. Munculnya Fredrich Ernst Daniel Schleiermacher
(1768-1834) menandai babak baru metode filsafat hermeneutika. Alumni dan dosen
Universitas Halle (1805) ini dianggap sebagai filosof meskipun ia bekerja
sebagai seorang pendeta. Materi kuliahnya “universal hermeneutic”
menjadi rujukan Gadamer dan berpangaruh terhadap pemikiran Weber dan Dilthey.
Ia dianggap sebagai filosof Jerman pertama yang terus menerus memikirkan
persoalan-persoalan hermeneutika. Karena itu ia dianggap sebagai Bapak
hermeneutika modern dan juga pendiri Protestan Liberal. Ini semua adalah latar
belakang sosial yang lebih banyak menguasai hermeneutikanya. Filsafatnya
tergolong sebagai idealis absolute dan pandangannya terhadap agama sama seperti
Kant. Beragama tidak bisa diartikan sebagai usaha mencapai ilmu transcenden,
sebab ilmu seperti ini baginya tidak mungkin dicapai.
Filsafat hermeneutikanya bermula dari pertanyaan universal:
bagaimana pemahaman manusia dan bagaimana ia terjadi? Dalam hal ini ia
mengajukan dua teori pemahaman hermeneutikanya: pertama pemahaman
ketata-bahasaan (grammatical understanding) terhadap semua ekspresi, dan
kedua pemahaman psikologis terhadap pengarang. Dari bentuk kedua ini
Schleiermacher lalu mengembangkan apa yang ia sebut intuitive understanding
yang secara operasionalnya merupakan suatu kerja rekonstruksi. Artinya
hermeneutika bertugas untuk merekonstruksi pikiran pengarang. Tujuan pemahaman
bukanlah makna yang diperoleh dari dalam materi subyek, tapi lebih merupakan
makna yang muncul dalam pandangan pengarang yang telah direkostruksi tersebut.
Jadi interpretasi yang benar, menurut teori Schleiermacher, tidak saja
melibatkan pemahaman konteks kesejarahan dan budaya pengarang tapi juga
pemahaman terhadap subyektifitas pengarang. Dan ini hanya dapat dilakukan
dengan kegiatan devinasi, an act of devination (ramalan, dugaan) yang
dengan itu interpreter menghadirkan kembali kesadaran pengarang. Jika kesadaran
pengarang dillihat dalam konteks cultural yang lebih luas, maka ia dapat
memahami pengarang lebih baik dari pengarang memahami dirinya sendiri. Teori
tentang interpretasi psikologis banyak mendapat kritikan karena
subyektifitasnya.[4] Dalam
kaitannya dengan al-Qur’an teori Schleiermacher ini irrelevan tapi juga
irrasional. Karena manusia tidak mungkin memproduksi kembali sikap mental Tuhan
ketika mewahyukan al-Qur’an.
Hermeneutika Schleiermacher mendapat kritikan dan juga makna
baru dari seorang filosof, kritikus sastra, sejarawan asal Jerman, Wilhelm
Dilthey (1833-1911). Bagi filosof yang pakar metodologi ilmu-ilmu sosial ini
hermeneutika adalah “tehnik memahami ekspresi tentang kehidupan yang tersusun
dalam bentuk tulisan”.[5]
Oleh karena itu ia menekankan pada peristiwa dan karya-karya sejarah yang
merupakan ekspresi dari pengalaman hidup dimasa lalu. Untuk memahami pengalaman
tersebut intepreter harus memiliki kesamaan yang intens dengan pengarang.
Bentuk kesamaan dimaksud merujuk kepada sisi psikologis Schleiermacher. Tapi ia
menolak asumsi Schleiermacher bahwa setiap kerja pengarang bersumber dari
prinsip-prinsip yang implisit dalam pikiran pengarang. Ia anggap asumsi ini
anti-historis sebab ia tidak mempertimbangkan pengaruh eksternal dalam
perkembangan pikiran pengarang. Selain itu Dilthey juga mencoba mengangkat
hermeneutika menjadi suatu disiplin ilmu yang memisahkan ilmu pengetahuan sosial
dan ilmu pengetahuan alam dan mengembangkannya menjadi metode-metode dan
aturan-aturan yang menentukan obyektifitas dan validitas setiap ilmu. Gagasan
ini mendapat dukungan dari sejarawan hukum sezamannya asal Italia Emilio Betti.
Bagi Dilthey hermeneutika universal memerlukan prinsip-prinsip epistemologi
yang mendukung pengembangan ilmu-ilmu sosial. Jika Kant menulis Crituque of
Pure Reason ia mencurahkan pemikiran untuk gagasan Crtique of Historical
Reason. Tapi benarkah pendekatan historis dapat dianggap universal, masih
memerlukan perdebatan panjang.
Pendekatan hermeneutika Dilthey yang diarahkan menjadi
dasar teori bagi ilmu kemanusiaan, dikembangan lagi oleh Martin Heidegger
(1889-1976) kearah kajian ontologis. Milleiu dan latar belakang
intelektualitasnya Heidegger berada dibawah pengaruh Fisika, metafisika dan
etika Aristotle yang di interpretasikan oleh Husserl dengan metode
fenomenologinya.[6]
Pemikiran Kant dalam Critique of Pure Reason dan kajian hermeneutika
historisnya Dilthey juga berpengaruh kedalam pemikiran Heidegger. Dengan latar
belakang itu ia lalu mengembangkan hermeneutika sebagai interpretasi yang
berdimensi ontologis. Jika kajian historis Dilthey melibatkan kesadaran tentang
kehidupan dalam konteks kesejarahan, Heidegger menghubungkan kajian tentang
makna kesejarahan dengan makna kehidupan. Teks tidak cukup dikaji dengan kamus
dan grammar, ia memerlukan pemahaman terhadap kehidupan, situasi pengarang dan
audiennya. Hermeneutikanya tercermin dalam karyanya Being and Time. Dasein (suatu
keberadaan atau eksistensi yang berhubungan dengan orang dan obyek) itu sendiri
sudah merupakan pemahaman, dan interpretasi yang essensial dan terus menerus.
Kesadaran tentang eksitensi ini juga menginterpretasikan berbagai entitas dalam
dunia seperti meja sebagai meja, kursi sebagai kursi.[7] Meskipun pengaruh Dilthey terhadap Heidegger
cukup kuat, namun ia juga punya kritik terhadapnya. Dilthey baginya tidak mampu
mengatasi kecenderungan pemikiran Barat yang subyektifistis, khususnya sejak
munculnya dualisme atau dikhotomi Discartes. Kecenderungan mana telah mengakibatkan
terjadinya dilemma epistemologis yang berkepanjangan.
Hermeneutika yang berkembang dari milieu tradisi
filsafat fenomenologi Husserl di Jerman tidak hanya melahirkan Heidegger dengan
interpretasi ontologisnya, tapi juga Hans-Georg Gadamer. Gadamer dengan karyanya
Truth and Method tidak memaknai hermeneutika sebagai penerjemah eksistensi
tapi pemikiran dalam tradisi filsafat. Sebenarnya ia tidak menganggap
hermeneutika sebagai metode, sebab baginya pemahaman yang benar adalah
pemahaman yang mengarah pada tingkat ontologis bukan metodologis. Artinya
kebenaran dapat dicapai bukan melalui metode tapi melalui dialektika, dimana
lebih banyak pertanyaan dapat diajukan. Dan yang sedemikian itu harus difahami
sebagai filsafat praktis (practical philosophy)”.[8]
Dia umpamakan pemahaman manusia sebagai
interpretasi-teks. Dalam proses memahami teks selalu didahului oleh
pra-pemahaman sang pembaca dan kepentingannya untuk berpatisipasi dalam makna
teks. Kita mendekati teks selalu dengan seperangkat pertanyaan atau dengan
potensi kandungan makna dalam teks. Melalui horizon ekspektasi inilah kita memasuki
proses pemahaman yang terkondisikan oleh realitas sejarah. Jadi jika para interpreter kitab Bible
mencoba masuk dalam teks asli dengan maksud untuk memahami teks tersebut sesuai
dengan maksud penulisnya, maka hermeneutika dalam pengertian Gadamer adalah
interpretasi teks sesuai dengan konteks ruang dan waktu interpreter. Inilah yang ia sebut dengan effective
historical consciousness yang struktur utamanya adalah bahasa yang disebut
juga sebagai the horizon of a hermeneutical ontology.
Jurgen Habermas (1929- ) mengkritik hermeneutika Gadamer sebagai
kurang memiliki kesadaran sosial yang kritis. Kalau bagi Gadamer pemahaman
didahului oleh pra-penilaian (pre-judgement), bagi Habermas pemahaman
didahului oleh kepentingan. Yang menentukan horizon pemahaman adalah
kepentingan sosial (social interest) yang melibatkan kepentingan
kekuasaan (power interest) sang interpereter dan khususnya
komunitas-komunitas interpreter yang terlibat dalam interpretasi. Disini
Habermas sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial keagamaan disaat mana
interpretasi Bible bertujuan untuk memenuhi kepentingan kelompok yang mapan ataupun
tertindas.
0 Response to "Dari Teologi Protestan Kepada Filsafat"
Post a Comment