Latest Updates

STUDI TENTANG PERAN KADER POS MALARIA DESA (POSMALDES) DI KOTA KUPANG



Erny E. Pua Upa 1, Elisabeth Laure 2

Abstract: Health is human basic rights which needs attention from all elements of society, therefore all elements of society important role to determine success, autonomy and continuity of the health program. Among other things community plays. The establishment of village malaria post cadres (posmaldes) is one of the community roles. Posmaldes is an umbrella of communication and health information and community development in order to deal with malaria on their own based. Based one the data from health department of East Nusa Tenggara Province, posmaldes has been built in Kupang since 2004, that consist of 12 posmaldes and 35 cadres. On Oebobo subdistrict of Kupang has 6 (six) posmaldes and 18 cadres. The purpose of this research is to know the role of posmaldes cadres in Oebobo subdistrict of Kupang City. This study was a descriptive analytic using qualitative approach. The source of this research is from the posmaldes cadres in Oebobo subdistrict that consists of 18 people. Data analysis  is aimed at knowing the role of posmaldes cadres with objective description based on interview result in the research field. The result of research shows that posmaldes cadres do their job successfully, for example : the cadres found surferers of malaria, diagnosed them, gave medical treatment, succeed the process of survey, motivated the community and collected the reports; each of them collected  a 100 % report, the cadres that made the health illumination of malaria were 88,88 % of people, those that helped vectors control were 66,67 % of people and those that made patient reference were 22,22 % of people.

Key words: Cadres Role, Posmaldes
       

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Peran serta masyarakat sangat menentukan terhadap keberhasilan, kemandirian dan kesinambungan pembangunan kesehatan, hal ini berdasarkan hasil pengamatan, pengalaman lapangan serta peningkatan cakupan program yang dikaji secara statistik (Depkes, 1997). Oleh karena itu peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan terus dipupuk karena kesehatan bukan hanya masalah pihak pemberi pelayanan kesehatan (provider), melainkan juga merupakan masalah masyarakat sendiri (consumer). Salah satu bentuk peran serta masyarakat adalah memberdayakan masyarakat melalui pembentukan kader Pos Malaria Desa (Posmaldes).

Posmaldes merupakan wadah komunikasi dan informasi kesehatan serta pengembangan masyarakat dalam rangka penanggulangan malaria atas dasar swadaya masyarakat. Disamping itu Posmaldes juga dapat didefinisikan sebagai tempat dimana masyarakat dengan mudah memperoleh pelayanan pengobatan malaria di bawah pengawasan tenaga kesehatan yakni petugas Puskesmas atau Pustu yang membawahinya (Dinkes,2004).

Pembentukan Posmaldes ini merupakan hasil kerjasama Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) dengan Global Fund AIDS, TB dan Malaria (GFATM) sebagaimana tertuang dalam MOU yang ditandatangani tahun 2003. Pembiayaannya berasal dari dana Global Fund ditambah APBN dan APBD. Di Indonesia, Posmaldes dipusatkan di bagian timur Indonesia yang terkenal sebagai daerah endemik malaria yaitu Papua, Maluku, Maluku Utara dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di Propinsi NTT berdasarkan Annual Malaria Incidence (AMI), tercatat angka kejadian malaria tahun 2003 sebesar 196,56 ‰, angka yang masih jauh dari standar nasional yakni AMI di bawah 50 ‰ yang bisa menyatakan daerah tersebut bebas malaria. Oleh karena itu NTT mendapat dana GFATM untuk pendirian Posmaldes. Sejak tahun 2004 sampai sekarang, Posmaldes sudah ada di delapan Kab/kota di NTT yaitu Kota Kupang, Kab. Kupang, TTS, TTU, Belu, Sumba Timur, Sumba Barat dan Alor karena ke delapan Kab./Kota memiliki angka kesakitan malaria yang cukup tinggi (Dinkes Prop. NTT,2005).
Diakui bahwa keberadaan Posmaldes memberi hasil yang baik terhadap upaya menurunkan angka kejadian malaria. Di Kab. TTU jumlah penderita malaria mengalami penurunan yang sangat signifikan setelah terbentuknya Posmaldes dari tahun 2004 sampai tahun 2006 (Pos Kupang, 2007).
Dari hasil kunjungan rombongan kepala Dinas Kesehatan Sumba Barat dan Suara Pembaruan ke Desa Praikaroku Jangga, Kecamatan Umbu Ratunggai, Kab Sumba Barat, diketahui bahwa masyarakat sangat terbantu dengan keberadaan Posmaldes. Menurut Yunus Kataucu Djewa Harang salah satu kader Posmaldes di Desa Praikaroku Jangga, penderita malaria mendatangi Posmaldes untuk diperiksa atau  mengambil obat (Suara Pembaruan, 2005).
Kota Kupang adalah daerah yang sudah memiliki Posmaldes sejak tahun 2004 dan sudah memberikan hasil yang nyata yaitu dengan menurunnya AMI. Hal ini terlihat dalam Tabel 1
Tabel 1. Angka Kejadian Malaria, Jumlah Posmaldes Dan Jumlah Kader Posmaldes Di Kota Kupang Tahun 2006
No
Keca-matan
Puskesmas
AMI (‰)
Jmlh Pos-maldes
Jmlh kader
1.
Maulafa
Sikumana
42,85
6
17
2

Oebobo
Oebobo
41,08
4
12
Bakunase
47,15
2
6
3.
Kelapa Lima
Pasir Panjang

28,28
-
-
Kupang Kota
41,17
-
-
4.
Alak
Alak
61,86
-
-

 
 








Sumber: Dinkes Kota Kupang tahun 2006
Pos Malaria Desa (Posmaldes)
Posmaldes mempunyai dua tujuan besar yakni tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umumnya adalah menurunkan angka kesakitan malaria dan kematian terutama di daerah yang jauh dari jangkauan pelayanan kesehatan (daerah sulit). Sedangkan tujuan khususnya adalah menampung seluruh kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat dalam penanggulangan malaria agar dapat terlaksana secara terencana, terarah, terpadu, menyeluruh dan berkesinambungan sehingga dapat memberi hasil optimal dalam penemuan dan pengobatan penderita serta pencegahan penularan malaria (Dinkes, 2004).
Posmaldes tidak didirikan pada semua daerah melainkan ada syarat dimana suatu daerah menjadi tempat berdirinya Posmaldes. Sarat pendirian posmaldes meliputi berada pada desa atau dusun yang endemis malaria tinggi, daerahnya sulit memperoleh pelayanan dari unit pelayanan kesehatan (Puskesmas) karena transportasi sulit dan diutamakan untuk masyarakat marginal atau miskin (Dinkes, 2004).
Sesuai dengan definisinya, Posmaldes merupakan tempat dimana masyarakat dapat dengan mudah memperoleh pelayanan pengobatan malaria. Pekerja dari Posmaldes tersebut disebut kader, yakni seorang yang dipilih oleh masyarakat untuk bekerja sebagai kader malaria secara sukarela, untuk ikut serta dalam upaya pencegahan dan penanggulangan malaria yang ada diwilayahnya, dan yang telah mendapat pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan diagnosa dan memberikan pengobatan malaria (Dinkes, 2004).
Seorang kader Posmaldes harus memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut: Bertempat tinggal di wilayah RT/RW yang bersangkutan sehingga pelayanannya benar-benar dirasakan masyarakat, mempunyai cukup waktu untuk melaksanakan tugas sebagai kader sehingga pekerjaan kader tidak terbengkalai, mau bekerja secara sukarela karena kader mempunyai tugas yang cukup banyak dan menuntut tanggung jawab yang tidak sedikit. Sarat kader posmaldes yang lain adalah : mau dilatih untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan karena kader bukan berasal dari orang berlatar belakang pendidikan kesehatan melainkan masyarakat umum, bisa membaca dan menulis karena kader bertanggung jawab terhadap pencatatan dan pelaporan kepada Puskesmas dan pemberian obat kepada penderita, diterima oleh masyarakat sehingga memudahkan interaksi dengan masyarakat dan pelaksanaan tugasnya di masyarakat, juga seorang kader diharapkan mampu menyelesaikan masalah di masyarakat dan mampu bekerja sesuai prosedur yang ada (Dinkes, 2004).
Dalam menjalankan tugasnya, kader Posmaldes akan berinteraksi dengan masyarakat sehingga untuk memilih seorang kader harus melibatkan  tokoh masyarakat. Mekanisme perekrutan kader adalah sebagai berikut :
Advokasi
Untuk mendapat dukungan dari pengambil keputusan ditingkat kecamatan perlu dilakukan advokasi tentang perlunya pembentukan Posmaldes untuk mendekatkan pelayanan kesehatan di daerah endemis malaria yang tidak terjangkau pelayanan kesehatan. Sasaran advokasi adalah : Muspida, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan, PPL Kecamatan, PU Kecamatan, KUA.

Sosialisasi
Sosialisasi dilakukan secara bertahap mulai dari tingkat kecamatan, desa dan dusun. Materi-materi yang disosialisasikan adalah : Situasi malaria di wilayah kerja Puskesmas, kerugian ekonomi akibat malaria, dampak/ akibat bahaya malaria, penemuan dan pengobatan penderita, faktor resiko terjadinya penularan malaria, pembentukan Posmaldes.

Pembentukan Tim Malaria Kecamatan
Tim malaria kecamatan yang dibentuk anggotanya terdiri dari : Camat sebagai ketua, Kepala Puskesmas sebagai sekrataris, Kepala cabang dinas pendidikan kecamatan sebagai anggota, PU kecamatan, PKK, LSM, Toga/Toma. Agar Posmaldes mendapat dukungan dari masyarakat secara berkesinambungan, perlu mendapat dukungan dari pimpinan setempat baik pemerintah maupun sektor terkait seperti masyarakat, LSM, swasta, organisasi profesi dan Toma/Toga.

Penentuan Lokasi
Lokasi Posmaldes disesuaikan dengan daerah endemis malaria yang sulit dijangkau oleh pelayanan kesehatan.

Penentuan Tenaga
Tenaga yang direkrut untuk menjadi kader posmaldes perlu memenuhi kriteria sebagai berikut : penduduk setempat, diterima oleh masyarakat, dapat membaca dan menulis, bersedia bekerja secara sukarela, dipilih secara bersama sama oleh masyarakat dengan diketahui oleh kepala desa atau lurah (Depkes, 1999).



Tugas dan Fungsi Kader Posmaldes
Kader yang telah dipilih oleh masyarakat, memiliki tanggung jawab sebagai berikut : Menemukan penderita baik yang dilakukan secara aktif maupun pasif. Yang dimaksudkan dengan penemuan penderita secara aktif yakni kader melakukan kegiatan kunjungan rumah untuk menemukan penderita dengan gejala klinis malaria. Yang diharapkan disini adalah kader menemukan penderita sebanyak-banyaknya dari kunjungan rumah tersebut. Setelah ditemukan penderita, kader melakukan kunjungan untuk mengetahui apakah penderita meminum obat secara teratur atau tidak. Sedangkan penemuan penderita secara pasif yakni kader menunggu penderita datang ke Posmaldes untuk berobat (Dinkes, 2004).
Selanjutnya, kader melakukan pemeriksaan klinis. Penderita dengan gejala klinis seperti demam berkala, menggigil disertai sakit kepala, pusing, mual dan muntah diberi obat anti malaria, yang diminum setelah makan selama tiga hari. Pengobatan pencegahan juga dilakukan kader kepada ibu hamil diatas 3 bulan dengan dosis tunggal yakni dua tablet seminggu (Dinkes,2004).
Kader juga melakukan rujukan penderita ke tempat pelayanan terdekat baik Pustu, Puskesmas maupun Rumah Sakit. Penderita yang dirujuk adalah penderita yang sudah minum obat sesuai petunjuk selama tiga hari tetapi tidak ada perubahan. Gejala-gejala yang dialami penderita rujukan adalah : kejang-kejang, tidak sadar, mengigau, bicara salah, tidur terus, diam saja, tingkah laku berubah, kuning pada mata, kencing warna teh tua, nafas cepat, panas tinggi, pingsan, dan muntah terus menerus. Disamping itu penderita yang dirujuk adalah ibu hamil dengan usia kehamilan kurang dari tiga bulan (Dinkes,2004).
Selain kegiatan pengobatan, kader juga memiliki fungsi sebagai penyuluh malaria yakni memberikan penerangan atau penjelasan tentang malaria kepada masyarakat baik yang dilakukan dengan target perorangan maupun kelompok. Secara perorangan, kader dapat melakukan penyuluhan pada saat penemuan dan pengobatan kasus baik secara aktif maupun pasif dengan materi : gejala klinis penyakit malaria, bagaimana minum obat yang benar, penyebab malaria, cara penularan, pencegahan dan bahaya penyakit malaria.
Penyuluhan kelompok biasanya dilakukan di tempat–tempat umum seperti gereja, masjid, posyandu, sekolah, dan dalam kegiatan PKK. Kegiatan penyuluhan ini bukan saja oleh kader tetapi juga bisa oleh tokoh masyarakat dengan materi : gejala – gejala penyakit malaria, cara minum obat yang benar, penyebab, cara penularan, pencegahan dan bahaya malaria, manfaat Posmaldes bagi masyarakat, pencegahan gigitan nyamuk, pemberantasan sarang nyamuk dengan membersihkan lumpur pada genangan air, menebar ikan pemakan jentik, mengalirkan genangan air, serta membersihkan semak – semak di sekitar rumah (Dinkes,2004).
Kegiatan lain yang juga menjadi tugas kader adalah membantu petugas Puskesmas dalam pelaksanaan kegiatan pemberantasan vektor malaria setelah dilakukan pemetaan dari penemuan kasus. Pemberantasan vektor dilakukan berdasarkan pertimbangan  REESA .
Rasional yakni Lokasi kegiatan pemberantasan vektor yang diusulkan memang terjadi penularan dan tingkat penularannya memenuhi kriteria yang ditetapkan secara langsung dalam kegiatan kerja bakti membersihkan tempat – tempat yang diduga merupakan tempat perindukan vektor malaria setelah ada penemuan kasus.
Efektif yakni  Dipilih salah satu metode/jenis kegiatan pemberantasan vektor  atau kombinasi kedua metode yang saling menunjang, dan metode tersebut dianggap paling berhasil mencegah atau menurunkan penularan. Pemilihan metode yang efektif perlu didukung data epidemiologi, entomologi dan KAP masyarakat.
Efisien yakni Diantara beberapa metode kegiatan pemberantasan vektor yang efektif harus dipilih metode yang biayanya paling murah.
Sustainable yakni kegiatan pemberantasan vektor yang dipilih harus dilaksanakan secara berkesinambungan sampai mencapai tingkat penularan tertentu, dan hasil yang sudah dicapai harus dapat dipertahankan dengan kegiatan yang lain yang biayanya lebih murah, antara lain dengan penemuan dan pengobatan penderita.
Acceptable yakni kegiatan yang dilaksanakan harus dapat diterima dan didukung oleh masyarakat setempat.
Kegiatan pemberantasan vektor dapat dilakukan antara lain : (untuk nyamuk dewasa) penyemprotan rumah, pencelupan kelambu dengan insektisida, (untuk larva) Biological Control yakni penebaran ikan pemakan jentik khusus untuk daerah yang terdapat tempat perindukan vektor potensial,  air permanen dan cocok untuk perkembangbiakan ikan pemakan jentik, Larvaciding : diusulkan untuk desa High Case lncidence (HCI) setelah dilakukan pemetaan Tempat Perindukan Potensial (TPP) yang tidak luas, tidak terlalu menyebar, jarak dengan pemukiman penduduk masih dalam jarak terbang vektor (2 km) dan periode waktu di tempat perindukan tersebut diketahui (Depkes, 1999).
Kader juga berperan melakukan kegiatan pemberantasan vektor bersama petugas Puskesmas setelah ditemukan penderita. Survey dilakukan pada semua penghuni rumah penderita dan empat rumah sekitarnya. Kegiatan survey tersebut bisa berupa :Mass Fever Survey (MSF) untuk tujuan konfirmasi, dilakukan di wilayah yang secara historis pernah HCl dan kunjungan kader tidak teratur; Malariometric Survey Dasar (MSD), dilakukan di wilayah sampel yang terletak di desa indeks dimana jumlah kasus malarianya terbanyak dan desa indeks tersebut mewakili satu wilayah epidemioligi tertentu (seperti persawahan, dan sebagainya) yang belum dilakukan pemberantasan vektor (Depkes, 1999).
Seorang kader Posmaldes diharapkan juga mampu menjalankan fungsi sebagai inspirator atau penggagas dan motivator atau penggerak kegiatan yang berkaitan dengan kesehatan di masyarakat. Selanjutnya kader harus memberi teladan dengan turut menjadi pelaksana kegiatan di masyarakat dan mampu menjadi penghubung antara masyarakat dengan lembaga swadaya masyarakat atau instansi seperti Puskesmas (Dinkes, 2004).
Sebagai tenaga yang berada di bawah Puskesmas, kader mempunyai kewajiban untuk memberikan laporan setiap bulan untuk hal – hal yang berhubungan dengan hasil kerja, penggunaan obat dan peralatan Posmaldes. Pencatatan dan pelaporan yang dilakukan kader meliputi : pencatatan kasus yang dilakukan setiap ada penemuan kasus pada buku register penderita, pencatatan penerimaan dan penggunaan obat, slide dan bahan lain dilakukan setiap ada penerimaan dan penggunaan dan pencatatan kematian yang diduga karena malaria setiap ada kematian (Dinkes, 2004).
Keberhasilan Posmaldes dapat diukur dengan : Adanya penemuan penderita klinis malaria baik secara aktif maupun pasif, penderita minum obat secara lengkap sesuai dengan aturan minum yang diberikan, adanya laporan kasus dari Posmaldes ke Puskesmas, adanya peta rumah penderita dan tempat perindukan di Posmaldes dan tidak terjadinya kematian karena malaria serta menurunnya absensi anak sekolah kasus malaria (Dinkes, 2004).
CARA  PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan menggunakan pendekatan kualitatif  untuk mendapatkan informasi tentang peran kader posmaldes. Penelitian ini dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Oebobo dan Wilayah Kerja Puskesmas Bakunase. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 18 orang kader posmaldes.

Variabel penelitian terdiri dari variabel bebas yakni Penemuan Penderita Malaria, Diagnosa Penderita Malaria, Pengobatan Klinis Malaria, Rujukan penderita Malaria, Penyuluhan Malaria, Pemberantasan Vektor Malaria, Penggerakkan Masyarakat, Membantu Kegiatan Survey Puskesmas dan  Pembuatan Laporan ke Puskesmas. Variabel terikat yakni Peran Kader Posmaldes.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kader Posmaldes melakukan perannya dengan baik, diantaranya kader menemukan penderita, mendiagnosa penderita, melakukan pengobatan klinik, membantu kegiatan survey, mengerakkan masyarakat dan memasukan laporan, masing-masing sebanyak 100 %. Sedangkan jumlah kader yang melakukan peran penyuluhan malaria sebanyak 88,88 %, membantu kegiatan pemberantasan vektor sebanyak 66,67 % sedangkan yang terendah adalah kader yang melakukan peran rujukan pasien sebesar 22,22 %.

Karakteristik Responden
Responden dalam penelitian ini sebanyak 18 orang, yang tersebar di dua wilayah Puskesmas yakni Puskesmas Oebobo sebanyak 12 orang dan Puskesmas Bakunase sebanyak 6 (enam) orang. Sebagian besar responden berusia 36 – 55 tahun (83.33 %). Bila dilihat dari jenis kelamin dan pekerjaan maka  88,99 % berjenis kelamin perempuan dan 83,33 % ibu rumah tangga (tidak bekerja). Hal ini menunjukan bahwa ibu rumah tangga yang tidak bekerja banyak yang berminat menjadi kader posmaldes. Bila ditinjau dari tingkat pendidikan maka  83.33 % tamat SMU, ini berarti bahwa kader posmaldes mempunyai tingkat pendidikan yang memadai sehingga mampu melaksanakan semua tugas kader.

Variabel Penemuan Penderita Malaria
Salah satu peran kader yang nyata terlihat adalah menemukan penderita. Penemuan penderita dapat bersifat aktif yaitu bila kader mendatangi rumah masyarakat untuk mencari penderita malaria, sedangkan penemuan penderita bersifat pasif adalah menunggu penderita mendatangi kader untuk mendapatkan pengobatan malaria (Dinkes,2004).

Hasil penelitian terhadap 18 responden menunjukan bahwa 100 % kader melakukan tugasnya menemukan penderita baik yang bersifat aktif maupun yang bersifat pasif. Dari hasil wawancara, kader paling sedikit menemukan 3 – 5 orang penderita setiap bulannya yang terdiri dari penderita hasil penemuan aktif dan pasif karena kader mencatat secara umum penderita yang ditemukan. Sementara itu, beberapa kader juga melakukan kunjungan kepada penderita malaria yang sedang menjalani pengobatan dari posmaldes. Data penemuan penderita yang diperoleh dari kader menunjukan bahwa tiap tahun mengalami penurunan. Bila dirata-ratakan maka jumlah penderita pertahun adalah sebagai berikut tahun 2004  sebanyak 1.307 orang, tahun 2005 sebanyak 1.004 orang dan tahun 2006 sebanyak 626 orang. Dari data ini diketahui bahwa penderita malaria mengalami penurunan setiap tahunnya.
Dalam melakukan perannya, kader malaria menerima honor sebesar Rp.75.000/ bulan. Namun selama penelitian, ditemukan bahwa kader tidak lagi menerima honor sejak bulan Pebruari  sampai dengan Agustus 2007.

Variabel Diagnosa Penderita Malaria
Mendiagnosa penderita adalah memastikan penyakit yang diderita penderita setelah mendengarkan keluhan dari penderita. Seseorang dikatakan menderita malaria jika mengalami demam berkala, menggigil disertai sakit kepala, pusing, mual dan muntah (Depkes,2004).

Hasil penelitian menujukkan bahwa semua (100 %) responden melakukan diagnosa terhadap pengunjung posmaldes sebalum memberikan obat anti malaria. Kader posmaldes mendiagnosa penderita malaria jika mengalami demam berkala, menggigil disertai sakit kepala, pusing, mual dan muntah. Diagnosa ini sangat penting untuk menghindari kesalahan dalam penanganan terhadap penderita malaria. Kader-kader posmaldes ini juga dibekali dengan pelatihan sebelum direkrut menjadi kader dan diberikan buku pedoman kerja kader.

Variabel Pengobatan Klinis Malaria
Melakukan pengobatan klinik adalah pengobatan yang diberikan terhadap penderita malaria klinik (demam, menggigil, berkeringat, biasanya disertai dengan sakit kepala, penderita pucat, badan terasa lemah dan mual) atau pada penderita tanpa pemeriksaan laboratorium.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 100 % responden melakukan pengobatan klinik terhadap penderita malaria sesuai dengan pedoman dosis obat yang diberikan kepada penderita. Melalui wawancara diketahui juga bahwa responden tidak melakukan pengobatan kepada ibu hamil walau kader telah dilatih untuk memberikan obat kepada ibu hamil. Jika ada ibu hamil yang ditemukan dengan gejala malaria, kader langsung memberikan kartu rujukan untuk dirujuk ke puskesmas. Hal ini dikarenakan kader tidak berani mangambil resiko.

Variabel Rujukan Penderita Malaria
Memberikan rujukan kepada penderita dimaksudkan agar mendapat penanganan lebih lanjut karena tidak ada perubahan yang berarti setelah mendapatkan pengobatan dari pihak posmaldes. Rujukan dapat dilakukan ke Pustu, Puskesmas atau RS (Dinkes,2004).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya (22,22 %) responden yang melakukan rujukan penderita, hal ini dikarenakan penderita yang ditemukan adalah penderita yang bukan merupakan penderita malaria sehingga perlu mendapat penanganan dari pihak Puskesmas dan ada juga penderita yang sudah terinfeksi malaria dari desa atau kabupaten lain sehingga ketika ditemukan sudah dalam kondisi yang buruk. Sedangkan sebanyak (77,78 %) tidak melakukan rujukan, karena penderita yang ditemukan merupakan penderita dengan gejala dini sehingga setelah menjalani pengobatan dari responden penderita langsung sembuh atau tidak ada lagi keluhan malaria.
Variabel Penyuluhan Malaria
Yang dimaksudkan dengan penyuluhan malaria adalah memberikan informasi kepada masyarakat maupun penderita tentang gejala malaria, manfaat Posmaldes, cara minum obat yang benar, penyebab malaria, cara penularan dan bahaya malaria, cara pencegahan gigitan nyamuk dan cara pemberantasan sarang nyamuk. Penyuluhan dapat dilakukan secara perorangan khususnya kepada penderita saat berobat dan keluarga penderita atau kepada masyarakat di kelurahannya (Dinkes, 2004).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 88,88 % responden melakukan penyuluhan malaria baik kepada penderita maupun kepada masyarakat di kelompok arisan, posyandu dan kelompok ibu gereja. Penyuluhan juga dilakukan saat  bertamu ke rumah warga atau saat mengobati penderita. Informasi yang disampaikan dalam penyuluhan meliputi gejala malaria, manfaat Posmaldes, cara minum obat yang benar, penyebab malaria, cara penularan dan bahaya malaria, cara pencegahan gigitan nyamuk dan cara pemberantasan sarang nyamuk. Penyuluhan biasanya dilakukan tiga kali dalam setahun, pada awal, pertangahan dan akhir musim hujan (berkisar bulan Nopember, Januari dan Maret).

Responden yang tidak melakukan penyuluhan sebanyak (11,12 %). Hal ini karena responden sudah mempunyai pekerjaan lain dan ada juga yang sudah tidak rutin lagi melakukan penyuluhan secara berkelompok tetapi lebih secara perorangan atau kepada keluarga. Alasan lain yang dikemukakan dalam wawancara adalah honor yang sudah tidak diterima. Walau demikian, responden masih melakukan peran yang lain seperti masih adanya penderita yang berobat dan masih memberikan laporan kepada Puskesmas secara teratur setiap bulannya.
Variabel Pemberantasan Vektor Malaria
Pemberantasan vektor malaria adalah membersihkan tempat-tempat yang dicurigai sebagai tempat perindukan nyamuk malaria maupun penyemprotan (foging) rumah masyarakat (Dinkes,2004).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 66,67 % responden terlibat dalam kegiatan pemberantasan vektor malaria. Dalam penelitian ditemukan bahwa kegiatan yang diikuti responden antara lain : pembagian abate dan pembersihan tempat perindukan nyamuk. Hal ini dilakukan sebanyak dua kali dalam setahun yakni pada bulan Nopember dan bulan Maret. Kegiatan ini dilakukan bila ada undangan dari pihak puskesmas atau dari Dinas Kesehatan Kota Kupang untuk kegiatan di wilayah kelurahan responden. Sedangkan sisanya (33,33 %) responden tidak terlibat dalam kegiatan pemberantasan vektor karena sibuk dengan pekerjaannya.
Variabel Penggerakan Masyarakat
Yang dimaksudkan dengan penggerakkan masyarakat yaitu mengajak dan melibatkan masyarakat untuk setiap kegiatan pemberantasan malaria atau untuk setiap program posmaldes (Dinkes,2004)
Hasil penelitian menunjukan bahwa 100 % responden melibatkan masyarakat dalam programnya untuk pemberantasan malaria baik melakukan pembersihan lingkungan maupun untuk pemberantasan jentik nyamuk. Biasanya dilakukan dua kali dalam setahun yakni pada bulan Nopember dan bulan Maret. Hal lain yang ditemukan dalam penelitian ini adalah bahwa responden mempunyai hubungan yang baik dengan masyarakat sehingga tidak mengalami kesulitan ketika mengajak masyarakat terlibat dalam kegiatannya. Masyarakat memiliki kesadaran yang tinggi untuk terlibat dalam program posmaldes, salah satunya adalah menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal.
Variabel Membantu Kegiatan Survey Puskesmas
Survey yang diikuti oleh responden adalah survey yang dilakukan oleh pihak Puskesmas diwilayah kerjanya atau di kelurahan responden. Survey bisa berupa Mass Fever Survey (MSF), Malariometric Survey Dasar (MSD) atau yang lainnya. (Dinkes,2004)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 100 % responden pernah terlibat dalam kegiatan survey yang di lakukan Puskesmas, namun hanya berlangsung pada dua tahun pertama menjadi kader, hal ini dikarenakan sepanjang tahun 2006 - 2007 pihak Puskesmas tidak lagi melibatkan responden dalam kegiatan survey. Kegiatan survey yang pernah diikuti responden adalah Mass Blood Survey (MBS) dan survey tempat perindukan nyamuk namun hanya dua kali dalam kurun waktu dua tahun tersebut.
Variabel Pembuatan Laporan Ke Puskesmas
Yang dimaksud dengan membuat laporan ke puskesmas adalah memberikan informasi berupa hasil kerjanya kepada pihak puskesmas antara lain pencatatan jumlah penderita malaria yang ditemukan, pengunaan obat dan peralatan posmaldes lainnya (Dinkes,2004).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 100 % responden melakukan tugasnya memasukan laporan berupa jumlah penderita yang ditemukan, penggunaan obat dan slide kepada Puskesmas secara teratur setiap akhir bulan, atau pada minggu pertama bulan berikutnya.

0 Response to "STUDI TENTANG PERAN KADER POS MALARIA DESA (POSMALDES) DI KOTA KUPANG"

Post a Comment