Sumber Data Penduduk Rentan
Sumber Data Penduduk Rentan .Selama ini belum tersedia data yang secara jelas menyebutkan dan menjabarkan jumlah penduduk rentan. Badan Pusat Statistik juga tidak secara spesifik menyebutkan jumlah penduduk rentan dan bagaimana penyebarannya. Jika yang dipakai adalah pendekatan tingkat konsumsi, maka penduduk yang dikategorikan sebagai rentan, mendekati miskin (near poor) dapat digunakan sebagai estimasi untuk menentukan jumlah penduduk miskin. Data tersebut, oleh BPS, dihitung dari hasil survei sosial ekonomi nasional (SUSENAS). Sebagaimana telah diuraikan pada studi sebelumnya, BPS menyelenggarakan SUSENAS secara periodik, dengan demikian maka jumlah penduduk mendekati miskin (near poor, yang diasumsikan sebagai penduduk sangat rentan) sesungguhnya dapat dihitung.
Perkembagan terbaru adalah data hasil Pendataan Sosial Ekonomi Penduduk 2005 (PSE05) atau yang dikenal dengan Sensus Kemiskinan. Tujuan Sensus Kemiskinan adalah membangun basis data rumah tangga miskin yang berisi:
(a) direktori rumah tangga miskin berupa daftar nama, alamat dan jumlah anggota rumah tangga;
(b) urutan rumah tangga miskin berdasarkan tingkat keparahannya (nilai skor tertinggi sampai yang terkecil) untuk masing-masing kabupaten/ kota;
(c) pengelompokan rumah tangga miskin menurut katergori yang dibuat oleh BPS (mendekati miskin, miskin dan sangat miskin).
Tujuan khusus dari pelaksanaan PSE05 adalah untuk memfasilitasi pemerintah dalam menyalurkan program Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada rumah tangga miskin sebagai kompensasi kenaikan harga bahan bakar minyak oleh Pemerintah.
Dalam PSE05 tersebut digunakan 14 variabel untuk menentukan apakah suatu rumahtangga layak atau tidak dikategorikan miskin, dan sekaligus menentukan skor tingkat keparahan kemiskinannya. Keempat belas variabel tersebut adalah:
1. luas bangunan,
2. jenis lantai,
3. jenis dinding,
4. fasilitas buang air besar,
5. sumber air minum,
6. sumber penerangan,
7. jenis bahan bakar untuk memasak,
8. frekuensi membeli daging ayam dan susu selama sepekan,
9. frekuensi makan sehari,
10. jumlah (stel) pakaian baru yang dibeli setahun,
11. akses ke pukesmas atau poliklinik,
12. lapangan pekerjaan,
13. pendidikan tertinggi kepala rumah tangga, dan
14. kepemilikan beberapa aset.
Di samping itu, terdapat 4 variabel yang merupakan target atau status penduduk dalam program intervensi pemerintah, yaitu: keberadaan balita, anak usia sekolah, kesertaan KB, dan penerima kredit usaha kecil dan menengah (UKM).
Menurut BPS, berdasarkan uji statistik hasil survei BPS beberapa tahun sebelumnya, ke-14 variabel tersebut memenuhi hubungan sangat erat atau paling representif dalam menjelaskan garis kemiskinan.
Jika dicermati lebih lanjut, dari 14 variabel yang dijadikan indikator dalam menentukan rumah tangga miskin, 7 (tujuh) diantaranya merupakan variabel yang terkait dengan tempat tinggal (luas bangunan, jenis lantai, jenis dinding, fasilitas buang air besar, sumber air minum, sumber penerangan), 2 terkait dengan konsumsi pangan, dan 2 (dua) terkait dengan konsumsi non makanan (jenis bahan bakar dan pembelian pakaian).
Banyaknya indikator tempat tinggal ini perlu dicermati secara hati-hati sebab beberapa studi menunjukkan bahwa beberapa indikator tersebut tidak tepat untuk dijadikan sebagai dasar penentuan rumah tangga miskin secara nasional dan mempunyai tingkat kolineritas tinggi. Studi yang dilakukan Thabrany dan Mundiharno (2004[i]) dari FKM UI di DKI Jakarta menunjukkan bahwa beberapa indikator seperti kepemilikan jamban dan jenis lantai tidaklah menggambarkan bahwa rumah tangga tersebut adalah rumah tangga miskin yang perlu dibantu. Begitu juga dengan indikator frekuensi makan kurang dari 2 kali sehari. Sekitar 63 persen rumah tangga yang diidentifikasi miskin di DKI Jakarta memiliki WC/septic tank sendiri dan hampir semua rumah tangga miskin menyatakan dapat makan 2 kali lebih dalam sehari (47,3 persen makan dua kali, dan 52,4 persen makan tiga kali sehari). Studi tersebut mengisyaratkan bahwa kalau jenis jamban dijadikan sebagai indikator kemiskinan maka ada peluang 63 persen rumah tangga tidak tercakup sebagai keluarga miskin. Demikian pula dengan indikator frekuensi makan dalam sehari dijadikan indikator maka akan banyak rumah tangga miskin yang tidak terdata.
Namun demikian meskipun masih terdapat kelemahan data, Sensus Kemiskinan 2005 yang dilakukan BPS merupakan satu-satunya data yang paling lengkap saat ini dalam mengidentifikasi keluarga miskin dengan indeks keparahannya. Dari data tersebut dapat disusun indeks kemiskinan dari yang tertinggi sampai yang terendah, dan dapat pula digunakan untuk mengestimasi banyaknya penduduk rentan. Rumah tangga yang indeksnya sedikit di atas titik batas (cut off) kemiskinan dapat dipertimbangkan sebagai penduduk rentan, yang sekali waktu jika ada guncangan keuangan (financial shock) dapat menjadi rumah tangga miskin.
Mengingat data Sensus Kemiskinan 2005 belum mungkin diperoleh untuk dianalisis dalam studi ini, maka jumlah dan persebaran penduduk rentan belum disajikan dalam studi ini.

0 Response to "Sumber Data Penduduk Rentan "
Post a Comment