Epistemologi Psikologi Islam

Kajian epistemologi menekankan pada proses atau prosedur timbulnya ilmu pengatahuan, hal-hal yang harus diperhatikan agar mendapatkan pengetahuan yang benar dan cara yang digunakan untuk membantu mendapatkan pengetahuan. Epistemologi merupakan satu-satunya jalur untuk melihat metode pencarian kebenaran dari sebuah ilmu pengetahuan. Kesalahan dalam menentukan metode akan menurunkan kualitas keilmuan tersebut sehingga hasil dari pencarian kebenaran akan banyak menyisakan pertanyaan-pertanyaan. 

Secara epistemologi perkembangan psikologi barat bermula dari pengembangan metode ilmiah ilmu eksakta, sehingga hasil keilmuannya bermuara pada pengukuran kuantitatif-eksperimen untuk menjamin objektifitas. Perkembangan keilmuan yang sedemikian rupa merupakan efek dari penerimaan ilmu eksakta yang melebihi penghargaan dari ilmu sosial, sehingga para ilmuan sosial berbondong-bondong mengadopsi metode ilmiah eksakta untuk dipergunakan pada ilmu sosial termasuk psikologi. 

Apabila ditelusuri keberadaan aliran-aliran dalam psikologi barat, maka dapat ditemukan bahwa konsep dasar aliran psikologi memiliki beberapa variasi dalam membangun keilmuannya meskipun tetap memiliki paradigma yang hampir sama. Freud mempergunakan pengalaman menangani pasien pada klinik neurologinya untuk membangun teori psikoanalisa. Bahkan tidak jarang mempergunakan pasien yang telah mengalami gangguan psikologis untuk digeneralisasikan pada orang-orang normal. Pavlov mencoba mempergunakan eksperimen binatang untuk menerangkan perilaku manusia pada aliran behavioristik, sehingga memunculkan spekulasi teori psikologi yang sangat mekanistik. Humanistik hadir untuk memberikan tempat yang lebih layak pada potensi dasar manusia dengan teori hirarki kebutuhan Maslow yang ternyata tidak mampu pula menjelaskan fenomena mati syahid para revolusi Iran. 

Karakteristik bangunan teori yang telah dimiliki oleh psikologi barat dengan segala metode (caranya) cenderung over estimate atau mungkin over confidance untuk menjelaskan perilaku manusia yang memiliki keunikan masing-masing, sehingga pada perkembangan mutakhir memunculkan sebuah pemikiran baru dalam bidang psikologi yang dikenal dengan Indigenous Psychology atau Cross Culture Psychology yang memberikan wacana tentang aspek budaya dan karakteristik budaya lokal dalam pembentukan perilaku manusia. 

Disamping itu bangunan ilmu psikologi juga sulit menjangkau permasalahan-permasalahan yang bersifat kejiwaan karena telah mendefinisikan dirinya dalam ilmu perilaku. Fenomena santet atau sejenisnya di beberapa wilayah di dunia tidak dapat terjelaskan dengan baik karena metode keilmuannya membatasi diri pada hal-hal yang nampak saja. Penerapan nilai-nilai ketimuran pada beberapa negara tidak dapat diurai dengan baik oleh psikologi barat. Hal ini menunjukkan adanya kerapuhan pada landasan berpikir yang dimulai dari pencarian ilmu melalui metode yang digunakan. 

Psikologi Islam menawarkan konsep tentang perluasan bidang kajian dan metode yang dipergunakan untuk mencari kebenaran meskipun tetap berlandaskan pada wahyu Tuhan (agama). Metode pencarian kebenaran tidak hanya mempergunakan indra yang memiliki banyak keterbatasan, tetapi juga mempergunakan potensi non-indrawi yang berwujud intuisi yang nilai kebenarannya sama-sama relatif dan wahyu yang kebenarannya tak terbantahkan. 

Metode ilmiah dalam membangun teori psikologi tetap dipergunakan untuk memberikan peluang potensi inderawi, misalnya dengan penelitian eksperimen, uji teori dengan menggunakan logika ilmiah (rasionalisasi). Metode yang lain yang juga perlu mendapat tempat adalah intuisi untuk memahami realitas empirik dan non-empirik yang tidak dapat dijangkau oleh indra dan akal pikiran. Metode intuisi mempergunakan potensi hati (qalbu) sebagai alat menjawab permasalahan yang terjadi dan merupakan metode penyempurna dari keterbatasan rasio. Fritjof Schuon mengatakan bahwa rasionalisme itu keliru bukan karena ia berupaya untuk mengekspresikan realitas secara rasional sejauh itu memungkinkan, tetapi karena ia berupaya merangkul seluruh realitas ke dalam alam rasio. 

Disamping itu metode keyakinan dan otoritas juga bisa digunakan untuk membangun sebuah teori dalam ilmu psikologi. Hal ini merupakan salah satu aspek pemahaman dan ketundukan terhadap kebenaran kitab suci sebagai wahyu dari pencipta manusia serta pengakuan kita terhadap orang-orang yang memiliki kemampuan dalam menafsirkan ilmu psikologi melalui ilmu agama. Kedua metode ini perlu mendapat pengakuan untuk mengembangkan teori psikologi yang mencoba memahami manusia secara lebih komprehensif baik dari aspek materi maupun non materi. 

Keberadaan metode-metode tersebut untuk membangun teori psikologi Islam membutuhkan kesepakatan dari penggagas ilmu psikologi Islam dan tidak membutuhkan persetujuan dari ilmuwan non Islam. Hal ini juga telah berlaku untuk pembangunan metode ilmiah bidang psikologi yang senantiasa memperhatikan aspek objektifitas dan empirik meskipun banyak perilaku manusia yang mulai tidak dapat didekati hanya pada pendekatan empiris. Jika kesepakatan tentang objektifitas berdasarkan metode tersebut telah dicapai maka psikologi Islam tidak lagi menjadi pseudo ilmiah tetapi sudah menjadi ilmiah bahkan bisa mencapai supra ilmiah karena persyaratan ilmiah telah terpenuhi.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " Epistemologi Psikologi Islam "

Post a Comment